Raksasa energi angin lepas pantai asal Denmark, Ørsted, baru saja merilis laporan keuangan kuartal kedua 2026 (Q2 2026) yang memberikan sinyal campur aduk. Di satu sisi, kinerja operasional perusahaan justru melampaui ekspektasi pasar. Namun di sisi lain, laba bersihnya ambles hingga 83% akibat tekanan dari proyek-proyek di Amerika Serikat yang masih bermasalah.
Kabar baiknya: EBITDA inti (tidak termasuk kemitraan baru dan biaya pembatalan) tercatat sebesar DKK 5,44 miliar, lebih tinggi dari perkiraan rata-rata analis yang sebesar DKK 5,1 miliar ![]()
. Angka ini juga naik tipis dari DKK 5,34 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Pendongkrak utama kinerja ini adalah produksi energi angin lepas pantai yang melonjak 23% secara tahunan, dengan hampir seluruh armada pembangkit Ørsted (99%) beroperasi menggunakan sumber energi terbarukan
.
Namun, kabar buruknya datang dari lini laba bersih. Laba bersih Ørsted pada Q2 2026 anjlok menjadi hanya DKK 518 juta (~US$79,9 juta), bandingkan dengan DKK 3,10 miliar pada Q2 2025 yang berarti ambles sekitar 83% ![]()
. Berikut tiga faktor utama yang menjadi biang keladinya: