Pendanaan itu datang setelah kinerja kuat sepanjang 2025. Return Helper mencatat pertumbuhan pendapatan tahunan lebih dari 60% dan mulai mencetak laba pada paruh kedua tahun tersebut . Menurut laporan perusahaan, peningkatan ini turut didorong oleh penerapan AI di berbagai bagian operasionalnya.
Platform Return Helper terintegrasi dengan sejumlah marketplace besar, termasuk Amazon, Shopify, TikTok, dan eBay. Layanannya ditopang jaringan lebih dari 20 gudang di luar negeri serta kemitraan dengan lebih dari 30 perusahaan pengangkut .
AI digunakan dalam beberapa tahap proses retur, mulai dari meningkatkan klasifikasi pengiriman lintas negara dan akurasi penentuan rute hingga mempercepat pemrosesan barang di jaringan gudang .
Perusahaan menyebut pendekatan ini dapat mengubah retur dari sekadar “pusat biaya” menjadi proses pemulihan aset yang lebih mudah dikelola bagi pedagang . Dengan pendanaan terbaru, Return Helper juga ingin mengembangkan AI agent yang mampu mengambil keputusan pengiriman lintas negara secara otomatis—bergerak dari alur kerja yang dibantu manusia menuju orkestrasi logistik yang lebih otonom .
Perbedaan utama Return Helper dibandingkan penyedia reverse logistics tradisional terletak pada strategi recommerce. Barang yang dikembalikan tidak selalu dikirim kembali ke negara asal, yang biasanya membutuhkan biaya dan waktu lebih besar.
Sebagai gantinya, barang dapat dikonsolidasikan di lokasi setempat, diperiksa kondisinya, lalu diarahkan ke kanal penjualan kembali apabila masih layak. Barang juga dapat diproses ulang atau diperbarui, alih-alih langsung dibuang atau dikirim secara internasional dengan biaya mahal .
Model pemulihan aset ini mengubah retur—yang biasanya menjadi beban logistik—menjadi potensi aliran pendapatan sekunder bagi pedagang. Strategi tersebut juga sejalan dengan pertumbuhan pasar recommerce di Eropa. Pasar recommerce Eropa diperkirakan mencapai US$43 miliar pada 2025 dan diproyeksikan tumbuh dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) 10,6% hingga 2029 .
Data lain menunjukkan bahwa pemimpin e-commerce Eropa yang mengintegrasikan logistik dengan API, AI, dan otomatisasi berhasil menekan biaya pemenuhan pesanan hingga 31% pada awal 2025 . Tren ini memperkuat alasan Return Helper untuk membidik pasar Eropa, meski keberhasilan ekspansinya tetap akan bergantung pada pelaksanaan di tiap pasar.
Komposisi investor dalam putaran ini memberikan Return Helper lebih dari sekadar suntikan dana. Cathay Venture, unit CVC Cathay Financial Holdings, dapat membantu membuka akses pasar dan infrastruktur di Taiwan. Sementara itu, MLC Ventures yang didukung raksasa logistik Jepang Mitsubishi Logistics membawa potensi jaringan gudang dan perusahaan pengangkut di Jepang .
Kehadiran kedua investor strategis tersebut memberi Return Helper mitra lokal untuk memperluas skala di dua pasar Asia penting, sekaligus mendukung rencana internasionalisasi perusahaan.
Return Helper mengalokasikan dana Seri A US$4 juta untuk tiga fokus utama :
Bagi pedagang dan marketplace Eropa yang mengelola penjualan lintas negara, langkah Return Helper mencerminkan perubahan cara memandang retur. Proses ini tidak lagi semata-mata soal menekan biaya, tetapi mulai diposisikan sebagai peluang pemulihan nilai yang didukung AI dan infrastruktur logistik.
Dengan pasar recommerce Eropa yang diproyeksikan terus tumbuh dua digit dan semakin banyak merek berjualan ke luar negeri, Return Helper kini memiliki ruang untuk berkembang. Tantangan berikutnya adalah membuktikan bahwa model tersebut dapat bekerja secara konsisten di berbagai negara, aturan retur, dan jaringan logistik.
Pendanaan itu datang setelah kinerja kuat sepanjang 2025. Return Helper mencatat pertumbuhan pendapatan tahunan lebih dari 60% dan mulai mencetak laba pada paruh kedua tahun tersebut . Menurut laporan perusahaan, peningkatan ini turut didorong oleh penerapan AI di berbagai bagian operasionalnya.
Platform Return Helper terintegrasi dengan sejumlah marketplace besar, termasuk Amazon, Shopify, TikTok, dan eBay. Layanannya ditopang jaringan lebih dari 20 gudang di luar negeri serta kemitraan dengan lebih dari 30 perusahaan pengangkut .
AI digunakan dalam beberapa tahap proses retur, mulai dari meningkatkan klasifikasi pengiriman lintas negara dan akurasi penentuan rute hingga mempercepat pemrosesan barang di jaringan gudang .
Perusahaan menyebut pendekatan ini dapat mengubah retur dari sekadar “pusat biaya” menjadi proses pemulihan aset yang lebih mudah dikelola bagi pedagang . Dengan pendanaan terbaru, Return Helper juga ingin mengembangkan AI agent yang mampu mengambil keputusan pengiriman lintas negara secara otomatis—bergerak dari alur kerja yang dibantu manusia menuju orkestrasi logistik yang lebih otonom .
Perbedaan utama Return Helper dibandingkan penyedia reverse logistics tradisional terletak pada strategi recommerce. Barang yang dikembalikan tidak selalu dikirim kembali ke negara asal, yang biasanya membutuhkan biaya dan waktu lebih besar.
Sebagai gantinya, barang dapat dikonsolidasikan di lokasi setempat, diperiksa kondisinya, lalu diarahkan ke kanal penjualan kembali apabila masih layak. Barang juga dapat diproses ulang atau diperbarui, alih-alih langsung dibuang atau dikirim secara internasional dengan biaya mahal .
Model pemulihan aset ini mengubah retur—yang biasanya menjadi beban logistik—menjadi potensi aliran pendapatan sekunder bagi pedagang. Strategi tersebut juga sejalan dengan pertumbuhan pasar recommerce di Eropa. Pasar recommerce Eropa diperkirakan mencapai US$43 miliar pada 2025 dan diproyeksikan tumbuh dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) 10,6% hingga 2029 .
Data lain menunjukkan bahwa pemimpin e-commerce Eropa yang mengintegrasikan logistik dengan API, AI, dan otomatisasi berhasil menekan biaya pemenuhan pesanan hingga 31% pada awal 2025 . Tren ini memperkuat alasan Return Helper untuk membidik pasar Eropa, meski keberhasilan ekspansinya tetap akan bergantung pada pelaksanaan di tiap pasar.
Komposisi investor dalam putaran ini memberikan Return Helper lebih dari sekadar suntikan dana. Cathay Venture, unit CVC Cathay Financial Holdings, dapat membantu membuka akses pasar dan infrastruktur di Taiwan. Sementara itu, MLC Ventures yang didukung raksasa logistik Jepang Mitsubishi Logistics membawa potensi jaringan gudang dan perusahaan pengangkut di Jepang .
Kehadiran kedua investor strategis tersebut memberi Return Helper mitra lokal untuk memperluas skala di dua pasar Asia penting, sekaligus mendukung rencana internasionalisasi perusahaan.
Return Helper mengalokasikan dana Seri A US$4 juta untuk tiga fokus utama :
Bagi pedagang dan marketplace Eropa yang mengelola penjualan lintas negara, langkah Return Helper mencerminkan perubahan cara memandang retur. Proses ini tidak lagi semata-mata soal menekan biaya, tetapi mulai diposisikan sebagai peluang pemulihan nilai yang didukung AI dan infrastruktur logistik.
Dengan pasar recommerce Eropa yang diproyeksikan terus tumbuh dua digit dan semakin banyak merek berjualan ke luar negeri, Return Helper kini memiliki ruang untuk berkembang. Tantangan berikutnya adalah membuktikan bahwa model tersebut dapat bekerja secara konsisten di berbagai negara, aturan retur, dan jaringan logistik.