Azure tumbuh 43% pada kuartal IV FY26 dan melampaui pendapatan tahunan US$100 miliar, sementara pendapatan Microsoft mencapai US$90 miliar. AWS tetap menjadi pemimpin dari sisi skala dengan pendapatan kuartalan US$42,2 miliar, sedangkan Google Cloud tumbuh paling cepat sebesar 82% menjadi US$24,8 miliar.
Jawaban penelitian

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: How did Microsoft’s fiscal 2026 fourth-quarter results— including 43% year-over-year Azure and other cloud-services growth to more than $100. Article summary: Microsoft’s quarter strengthened its position as the most commercially integrated AI-cloud challenger to AWS: Azure reached $100 billion-plus annual revenue, Copilot showed meaningful paid-seat adoption, and the $678 bil. Topic tags: general, news, general web, user generated, government. Style: premium digital editorial illustration, source-backed research mood, clean composition, high detail, modern web publication hero. Use reference image context only for broad subject, composition, and topical grounding; do not copy the exact image. Avoid: logos, brand marks, copyrighted characters, real person likenesses, fake screenshots, UI text, readable text, watermar
Hasil kuartal IV tahun fiskal 2026 membuat strategi AI Microsoft terlihat semakin komersial, bukan lagi sekadar eksperimen. Pendapatan perusahaan mencapai US$90,0 miliar, naik 18% secara tahunan. Laba operasi meningkat 18% menjadi US$40,6 miliar, sementara laba bersih GAAP naik 31% menjadi US$35,8 miliar. Pendapatan Azure dan layanan cloud lainnya tumbuh 43% pada kuartal tersebut, dan pendapatan tahunan Azure untuk pertama kalinya menembus US$100 miliar.
Capaian ini belum menjadikan Microsoft sebagai penyedia cloud publik terbesar. Namun, hasil tersebut memperjelas peta persaingan: AWS masih unggul dalam skala, Google Cloud tumbuh paling cepat, sedangkan keunggulan khas Microsoft terletak pada gabungan infrastruktur cloud, distribusi perangkat lunak perusahaan, dan aplikasi AI.
Laporan Microsoft memperlihatkan beberapa jenis permintaan yang biasanya dibahas secara terpisah:
Gabungan metrik ini menunjukkan bahwa Microsoft menghasilkan uang dari AI melalui dua jalur: konsumsi infrastruktur dan langganan perangkat lunak. Artinya, pertumbuhan perusahaan tidak hanya bergantung pada penyewaan kapasitas komputasi. Microsoft juga dapat menjual fitur AI melalui produk yang sudah menjadi bagian dari alur kerja perusahaan.
Meski demikian, angka backlog perlu dibaca secara hati-hati. Remaining performance obligations adalah komitmen kontraktual, bukan pendapatan saat ini atau kapasitas yang langsung tersedia. Pelanggan tetap membutuhkan pusat data, koneksi, chip, dan beban kerja yang siap digunakan sebelum komitmen tersebut berubah menjadi penjualan yang diakui.
Amazon Web Services (AWS) mencatat pendapatan US$42,2 miliar pada kuartal II, naik 37% secara tahunan. Angka itu setara dengan laju pendapatan tahunan sekitar US$169 miliar. Amazon menyebut pertumbuhan tersebut sebagai yang tercepat dalam 18 kuartal.
Dengan demikian, AWS masih lebih besar daripada Google Cloud dari sisi pendapatan kuartalan dan memiliki keunggulan besar atas laju pendapatan Google Cloud saat ini. Hasil terbaru AWS juga menunjukkan bahwa pemain lama masih bisa mempercepat pertumbuhan: lajunya naik tajam dari 28% pada kuartal sebelumnya.
Tonggak US$100 miliar mengubah narasi tentang Azure, tetapi tidak mengubah urutan pemimpin. Azure kini menjadi bisnis tahunan bernilai lebih dari US$100 miliar, sedangkan AWS berjalan pada laju sekitar US$169 miliar berdasarkan kuartal terbarunya.
Perbandingan ini tidak sepenuhnya setara. Microsoft melaporkan pendapatan tahunan Azure berdasarkan tahun fiskal, sementara Amazon melaporkan pendapatan kuartalan AWS dan mengubahnya menjadi annualized run rate—perkiraan pendapatan setahun jika laju kuartal terakhir bertahan.
Pendapatan Google Cloud naik 82% secara tahunan menjadi US$24,8 miliar pada kuartal II. Jika disetahunkan, angka tersebut menyiratkan laju sekitar US$99 miliar, mendekati pencapaian pendapatan tahunan Azure. Namun, periode dan definisi pelaporan kedua perusahaan berbeda.
Laju pertumbuhan Google Cloud jauh di atas pertumbuhan Azure sebesar 43% dan AWS sebesar 37%. Meski begitu, persentase pertumbuhan saja dapat mengaburkan gambaran persaingan. Berdasarkan angka yang dilaporkan, Google Cloud dan AWS masing-masing menambahkan sekitar US$11 miliar pendapatan kuartalan dibandingkan tahun sebelumnya. Google memang mengejar dengan cepat, tetapi AWS masih jauh lebih besar dari sisi nilai absolut.
Google juga melaporkan laba operasi Cloud sebesar US$8,8 miliar, naik dari US$2,8 miliar setahun sebelumnya, serta backlog cloud senilai US$514 miliar.
Hasilnya adalah persaingan tiga arah dengan keunggulan yang berbeda:
Backlog komersial Microsoft sebesar US$678 miliar dan backlog cloud Alphabet sebesar US$514 miliar menunjukkan bahwa pelanggan besar membuat komitmen cloud dan AI untuk beberapa tahun. Hal ini membuat lonjakan AI saat ini terlihat lebih tahan lama daripada sekadar gelombang uji coba berskala kecil.
Namun, komitmen tersebut tidak menghapus hambatan operasional. Kontrak yang sudah ditandatangani tetap harus didukung pusat data, listrik, peralatan jaringan, akselerator AI, dan perangkat lunak. Jika infrastruktur terlambat dibangun, permintaan dapat terlihat besar di dalam backlog, sementara pengakuan pendapatan dan arus kas baru datang kemudian.
Rencana belanja Alphabet menggambarkan besarnya tantangan tersebut. Perusahaan menaikkan proyeksi belanja modal 2026 menjadi US$195 miliar hingga US$205 miliar karena menyebut kuatnya permintaan cloud dan kebutuhan kapasitas.
Situasi ini menciptakan persoalan waktu bagi investor. Perusahaan dapat mengamankan komitmen pelanggan sebelum kapasitas fisik untuk memenuhinya benar-benar tersedia. Pertanyaannya bukan lagi hanya apakah pelanggan menginginkan AI, melainkan seberapa cepat permintaan tersebut bisa diubah menjadi penggunaan yang dapat ditagihkan—dan apakah penggunaannya akan menghasilkan margin yang menarik setelah biaya infrastruktur diperhitungkan.
Belanja modal Alphabet mencapai US$44,9 miliar pada kuartal II, sementara arus kas bebasnya turun menjadi negatif US$5,9 miliar. Angka tersebut menunjukkan bagaimana pertumbuhan cloud yang menguntungkan dapat berjalan bersamaan dengan konsumsi kas besar dalam jangka pendek ketika perusahaan membangun infrastruktur lebih dahulu.
Ujian ekonomi yang sama berlaku bagi Microsoft. Laba operasi yang kuat dan pertumbuhan Azure memberi perusahaan dukungan finansial lebih besar untuk berinvestasi. Namun, Microsoft tetap harus membuktikan bahwa konsumsi Azure, langganan Copilot, dan komitmen kontraktual dapat menghasilkan pengembalian yang memadai ketika belanja infrastruktur meningkat.
Investor belum secara luas menyimpulkan bahwa perusahaan hyperscaler—penyedia teknologi dengan skala pusat data sangat besar—akan menghentikan investasi AI. Reuters melaporkan bahwa perhatian pasar bergeser ke perusahaan mana yang mampu menghasilkan pengembalian jangka panjang terbaik dari siklus belanja ini. Di sisi lain, survei Bank of America menunjukkan 38% pengelola dana menilai belanja modal hyperscaler AI sebagai sumber potensial terbesar bagi terjadinya peristiwa kredit sistemik.
Kedua pandangan itu tidak selalu bertentangan. Investor dapat percaya bahwa permintaan AI nyata dan belanja akan terus berlanjut, sembari tetap mempertanyakan berapa lama modal akan kembali, kebutuhan pembiayaan, serta tingkat pengembalian dari setiap dolar yang ditanamkan.
Microsoft keluar dari kuartal ini sebagai pesaing cloud AI yang paling terintegrasi secara komersial, bukan sebagai pemimpin cloud yang tak terbantahkan. Tonggak pendapatan Azure di atas US$100 miliar, pertumbuhan kuartalan 43%, lebih dari 30 juta kursi Copilot berbayar, dan backlog US$678 miliar menjadi bukti kuat bahwa permintaan AI sudah masuk ke anggaran perusahaan.
AWS masih memiliki skala cloud terbesar yang dilaporkan, sementara Google Cloud mencatat laju pertumbuhan terkuat. Perbandingan ini juga menunjukkan mengapa tidak ada satu metrik yang dapat menentukan pemenang: persentase pertumbuhan menguntungkan Google, skala absolut menguntungkan AWS, sedangkan distribusi produk dan permintaan perusahaan yang sudah dikontrak memberi Microsoft keunggulan yang berbeda.
Tahap berikutnya akan lebih banyak ditentukan oleh eksekusi daripada sekadar pertumbuhan di judul laporan keuangan. Ketiga penyedia harus mengubah backlog menjadi kapasitas yang benar-benar terpasang, kapasitas menjadi penggunaan pelanggan, lalu penggunaan tersebut menjadi arus kas bebas dan pengembalian yang tahan lama.
Hasil Microsoft menunjukkan bahwa peluang cloud AI sudah menghasilkan pendapatan nyata. Namun, hasil tersebut belum membuktikan bahwa pembangunan infrastruktur dalam skala besar akan sama menguntungkannya ketika bisnis ini mencapai tahap matang.
Studio Global AI
Halaman ini berisi jawaban yang didukung sumber yang dapat Anda lanjutkan di dalam Studio Global.
Azure tumbuh 43% pada kuartal IV FY26 dan melampaui pendapatan tahunan US$100 miliar, sementara pendapatan Microsoft mencapai US$90 miliar.
Azure tumbuh 43% pada kuartal IV FY26 dan melampaui pendapatan tahunan US$100 miliar, sementara pendapatan Microsoft mencapai US$90 miliar. AWS tetap menjadi pemimpin dari sisi skala dengan pendapatan kuartalan US$42,2 miliar, sedangkan Google Cloud tumbuh paling cepat sebesar 82% menjadi US$24,8 miliar.
Perhatian pasar kini bergeser dari sekadar ada atau tidaknya permintaan AI ke kemampuan membangun pusat data, memasok chip dan listrik, serta menghasilkan arus kas yang sepadan dengan belanja tersebut.