Penurunan ini terjadi di hampir semua sektor. Penurunan terdalam terjadi pada barang modal (-2,1% MoM), diikuti barang antara (-0,9%), dan barang konsumsi (-0,7%). Hanya sektor energi yang mencatat pertumbuhan (+0,8%) . Meskipun secara keseluruhan kuartal kedua masih mencatat kenaikan tipis 0,4% dibanding kuartal pertama, data bulan Juni benar-benar memutus momentum positif tersebut .
Output industri Prancis secara keseluruhan hanya naik 0,1% MoM pada Juni 2026, meleset dari ekspektasi konsensus sebesar 0,3% dan setelah sebelumnya turun 0,2% di bulan Mei . Namun, angka ini agak menyesatkan. Output manufaktur (industri pengolahan) justru anjlok 1,1% (setelah turun 1,0% di Mei), didorong oleh penurunan signifikan di industri makanan-minuman pertanian (-0,8%), produk kilang minyak bumi dan kokas (-12%), serta alat transportasi (-3,8%) . Kenaikan tipis 0,1% secara keseluruhan hanya ditopang oleh lonjakan 4,2% di sektor pertambangan, energi, dan air—bukan karena aktivitas pabrik .
Ada beberapa faktor yang sama-sama menjelaskan kekecewaan di kedua negara:
Data Juni dari Italia dan Prancis mengonfirmasi bahwa pemulihan industri Zona Euro kehilangan momentum di kuartal II-2026 setelah awal tahun yang kuat. Rebound di kuartal I yang didorong oleh penimbunan kembali stok dan belanja pertahanan mulai memudar .
Jerman masih menjadi beban terbesar bagi sektor industri Zona Euro. Namun, kontraksi dua bulan berturut-turut di Italia dan penurunan manufaktur di Prancis menunjukkan bahwa kelemahan ini bersifat meluas, tidak hanya terjadi di Jerman. Data PMI Manufaktur Juli memperkuat gambaran rapuh ini: output didorong oleh pembersihan backlogs, bukan oleh pesanan baru, yang mengindikasikan bahwa pemulihan ini mungkin hanya bersifat sementara .
Pada pertemuan 11 Juni 2026, ECB menaikkan suku bunga fasilitas deposit sebesar 25 basis poin menjadi 2,25%, mengakhiri jeda selama setahun . Keputusan ini didorong oleh inflasi yang masih tinggi, dengan proyeksi ECB Juni memperkirakan inflasi rata-rata 3,0% untuk 2026 dan 2,3% untuk 2027 .
Kekecewaan data industri pada bulan Juni, ditambah dengan sektor jasa yang masih berada dalam kontraksi dan PMI gabungan yang negatif, memperkuat argumen bagi ECB untuk menahan suku bunga pada pertemuan berikutnya. Perang di Timur Tengah membebani aktivitas ekonomi, dan proyeksi ECB sendiri sudah memperkirakan pertumbuhan PDB yang sangat moderat (0,8% di 2026, 1,2% di 2027) .
Dengan pertumbuhan yang melambat dan inflasi yang masih di atas target namun cenderung menurun, ECB kemungkinan akan menunggu lebih banyak data sebelum mengambil langkah selanjutnya. Risiko kesalahan kebijakan—menaikkan suku bunga di tengah perlambatan—telah meningkat. Jeda kebijakan yang panjang kini sangat mungkin terjadi.
Kejutan negatif dari Italia dan Prancis mengurangi keunggulan pertumbuhan relatif yang dibangun Zona Euro melawan AS pada awal 2026. Data manufaktur yang lemah cenderung membebani euro karena menurunkan ekspektasi selisih suku bunga yang menguntungkan.
Pasar sekarang akan memperhitungkan probabilitas yang lebih rendah untuk kenaikan suku bunga ECB lebih lanjut. Jika The Fed tetap bertahan atau dipandang lebih hawkish, pasangan EUR/USD bisa menghadapi tekanan baru. Narasi pemulihan yang rapuh memberi sedikit alasan bagi euro untuk menguat dari level saat ini.
Intinya. Penurunan 1,0% Italia dan kenaikan 0,1% Prancis (dengan manufaktur -1,1%) sama-sama meleset dari ekspektasi dan memperlihatkan pelemahan ekonomi riil di balik PMI yang masih tampak ekspansif. Kenaikan suku bunga ECB pada Juni kini terlihat sebagai puncak siklus, dan jeda panjang kemungkinan besar akan terjadi. Euro tidak memiliki katalis kuat untuk menguat lebih lanjut berdasarkan data ini.