Biasanya emas naik ketika ketegangan geopolitik meningkat atau inflasi melonjak. Namun pada 2026, reaksi pasar justru berbalik. Faktor yang biasanya mendukung emas malah membuat investor memperkirakan kebijakan moneter AS akan lebih ketat lebih lama, sehingga harga emas turun ke kisaran $4.500 per ons.
Pemicu utamanya adalah inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan, kenaikan harga minyak akibat ketegangan Timur Tengah, lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury), serta penguatan dolar. Kombinasi ini menggeser narasi pasar dari "safe haven" menjadi ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama (higher for longer)—situasi yang biasanya menekan emas.
Emas tidak memberikan bunga atau dividen. Ketika imbal hasil obligasi pemerintah AS naik, investor dapat memperoleh penghasilan lebih tinggi dari obligasi atau instrumen kas dibanding memegang emas.
Selama periode penurunan ini, imbal hasil Treasury melonjak bersamaan dengan penguatan dolar AS. Harga emas sempat turun ke sekitar $4.557 per ons, level terendah dalam lebih dari satu minggu, dan melemah sekitar 2–3% dalam sepekan.
Kenaikan imbal hasil tersebut meningkatkan opportunity cost memegang emas. Analis mencatat bahwa kombinasi imbal hasil yang naik dan dolar yang lebih kuat menjadi alasan utama pelemahan emas meski ketegangan geopolitik meningkat.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran mendorong harga minyak lebih tinggi. Hal ini memicu kekhawatiran akan gelombang inflasi baru secara global.
Namun alih‑alih mengangkat harga emas sebagai lindung nilai inflasi, lonjakan minyak justru membuat investor menilai bahwa inflasi bisa bertahan lebih lama. Artinya, Federal Reserve mungkin harus mempertahankan kebijakan moneter yang ketat atau menunda pemotongan suku bunga.
Perubahan ekspektasi kebijakan ini menekan emas karena kebijakan yang lebih hawkish biasanya memperkuat dolar dan menaikkan imbal hasil riil—dua faktor yang negatif bagi logam mulia.
Emas diperdagangkan secara global dalam dolar AS. Ketika dolar menguat, harga emas menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.
Selama periode yang sama ketika imbal hasil melonjak, indeks dolar juga naik. Hal ini memperkuat tekanan pada harga emas dan mendorong sebagian investor menutup posisi komoditas yang menggunakan leverage.
Akibatnya, kombinasi dolar kuat dan imbal hasil tinggi menjadi hambatan makro yang cukup kuat untuk menutupi permintaan safe haven.
Data inflasi yang panas dan lonjakan harga minyak membuat pasar meninjau ulang kapan The Fed akan mulai melonggarkan kebijakan.
Sebelumnya, investor memperkirakan pemotongan suku bunga yang relatif cepat. Namun setelah inflasi meningkat, pasar mulai mempricing skenario di mana suku bunga tetap tinggi lebih lama.
Perubahan ekspektasi ini penting karena emas biasanya berkinerja baik ketika suku bunga riil turun atau ketika pasar mengantisipasi pelonggaran moneter.
Begitu harga emas mulai turun, faktor teknis ikut mempercepat pergerakan.
Penembusan beberapa level harga penting, dikombinasikan dengan kenaikan imbal hasil dan dolar yang kuat, memicu aksi jual jangka pendek dari trader dan hedge fund. Laporan pasar bahkan menyebut adanya tekanan jual yang meluas di pasar komoditas.
Ini membantu menjelaskan mengapa emas dapat turun meski risiko geopolitik masih tinggi.
Meski pelemahan terjadi dalam jangka pendek, sejumlah faktor struktural masih mendukung emas.
Beberapa bank besar tetap memperkirakan harga yang lebih tinggi dalam beberapa tahun ke depan. Misalnya, J.P. Morgan memproyeksikan emas bisa mendekati $5.000 per ons pada akhir 2026, didukung permintaan investor dan bank sentral.
Permintaan bank sentral menjadi faktor penting. Menurut World Gold Council, bank sentral membeli sekitar 244 ton emas pada kuartal pertama 2026, membantu mendorong total permintaan global menjadi 1.231 ton senilai rekor $193 miliar.
Diversifikasi cadangan ini menciptakan dukungan struktural bagi harga emas, bahkan ketika faktor makro jangka pendek menekan pasar.
Penurunan emas menuju $4.500 lebih banyak dipicu oleh dinamika suku bunga daripada geopolitik.
Ekspektasi inflasi yang meningkat, lonjakan harga minyak, imbal hasil Treasury yang lebih tinggi, dan dolar yang menguat membuat pasar memperkirakan kebijakan The Fed akan lebih hawkish. Hal itu meningkatkan biaya peluang memegang emas dan melemahkan sentimen jangka pendek.
Namun dalam jangka panjang, pembelian bank sentral, ketidakpastian geopolitik, dan kemungkinan pelonggaran moneter di masa depan masih menjadi alasan utama mengapa banyak analis tetap melihat potensi kenaikan harga emas pada akhir dekade ini.
Studio Global AI
Use this topic as a starting point for a fresh source-backed answer, then compare citations before you share it.
Harga emas turun ke kisaran $4.500 karena lonjakan imbal hasil obligasi AS dan penguatan dolar meningkatkan biaya peluang memegang emas yang tidak memberikan bunga.
Harga emas turun ke kisaran $4.500 karena lonjakan imbal hasil obligasi AS dan penguatan dolar meningkatkan biaya peluang memegang emas yang tidak memberikan bunga. Konflik AS–Iran mendorong harga minyak dan ekspektasi inflasi, tetapi pasar justru menilai hal itu akan membuat The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Meski sentimen jangka pendek melemah, pembelian emas oleh bank sentral dan proyeksi harga sekitar $5.000 pada 2026 tetap mendukung prospek jangka panjang.