Menurut Pichai, percepatan AI terlihat jelas dari dua hal: kemampuan model yang meningkat cepat dan adopsi yang melonjak di berbagai produk.
Google mengungkapkan bahwa sistem AI mereka kini memproses sekitar 3,2 kuadriliun token per bulan, naik sekitar tujuh kali lipat dari 480 triliun token pada Google I/O tahun sebelumnya.
Lonjakan ini terjadi karena AI semakin terintegrasi ke dalam ekosistem Google—mulai dari Search, Workspace, Android, YouTube, hingga alat developer. Semakin banyak pengguna yang memanfaatkan AI dalam aktivitas sehari‑hari, semakin cepat pula teknologi tersebut berkembang.
Karena itulah Pichai membandingkan kondisi AI saat ini dengan awal era ponsel sebelum smartphone: inovatif pada masanya, tetapi sangat terbatas jika dilihat dari masa depan.
Konsep utama dari pengumuman Google adalah AI yang bersifat “agentic.” Artinya, sistem AI dapat bertindak sebagai agen yang menjalankan tugas, bukan sekadar alat yang menunggu perintah.
Dalam pendekatan ini, AI dapat:
Pichai menyebut peluncuran terbaru Google sebagai awal dari era Gemini yang agentic, di mana AI semakin berperan sebagai asisten proaktif dibanding chatbot pasif.
Salah satu contoh paling jelas dari konsep ini adalah Gemini Spark.
Google menggambarkannya sebagai agen AI pribadi yang aktif 24 jam untuk membantu mengelola kehidupan digital pengguna. Di bawah arahan pengguna, Spark dapat menghubungkan berbagai layanan Google dan melakukan tindakan secara otomatis.
Beberapa karakteristik utamanya:
Pendekatan ini menunjukkan arah baru: AI bukan sekadar alat bantu, tetapi kolaborator digital yang terus aktif di latar belakang.
Google juga memperkenalkan Gemini 3.5 Flash, model pertama dalam keluarga model Gemini 3.5.
Model ini dirancang khusus untuk workflow agentic dan tugas pemrograman kompleks, terutama pekerjaan yang membutuhkan rangkaian langkah panjang.
Menurut Google, model ini:
Kemampuan ini penting karena agen AI perlu merencanakan dan mengeksekusi langkah‑langkah, bukan sekadar menghasilkan satu jawaban.
Peluncuran besar lainnya adalah Gemini Omni, model yang dirancang untuk generasi konten multimodal.
Dengan Omni, pengguna dapat menggabungkan teks, gambar, audio, dan video sebagai input untuk menghasilkan video berkualitas tinggi. Proses pembuatan dan pengeditan bahkan bisa dilakukan melalui percakapan dengan AI.
Model ini menggabungkan kemampuan penalaran Gemini dengan sistem generatif media, menunjukkan arah masa depan AI yang mampu memahami dan menghasilkan konten dalam banyak format sekaligus.
Perubahan menuju AI agentic juga berpotensi mengubah cara kerja developer.
Jika sebelumnya AI hanya membantu menulis potongan kode, model seperti Gemini 3.5 Flash membuka kemungkinan bagi sistem AI untuk mengelola rangkaian pekerjaan pengembangan yang lebih panjang dan kompleks.
Artinya, peran engineer bisa bergeser dari menulis setiap baris kode menjadi mengawasi dan mengarahkan sistem AI yang mengerjakan sebagian besar implementasi.
Namun, pernyataan publik dari Google masih berhati‑hati. Kesimpulan yang didukung sumber adalah bahwa AI akan mengambil lebih banyak tugas pemrograman kompleks, bukan sepenuhnya menggantikan engineer.
Pichai juga mengakui bahwa perkembangan AI yang sangat cepat menimbulkan reaksi campuran dari masyarakat—antara antusiasme terhadap inovasi dan kekhawatiran tentang dampak pekerjaan, keamanan, serta perubahan sosial.
Pada saat yang sama, persaingan industri semakin intens. Perusahaan seperti OpenAI, Anthropic, Microsoft, dan Meta berlomba mengembangkan model AI yang lebih kuat.
Melalui pengumuman di Google I/O 2026, Google ingin menunjukkan bahwa mereka memiliki skala infrastruktur, ekosistem produk, dan kecepatan inovasi untuk bersaing dalam perlombaan ini.
Jika dilihat secara keseluruhan, pengumuman di Google I/O 2026 menunjukkan perubahan besar dalam cara teknologi AI digunakan.
AI sedang bergerak dari:
Produk seperti Gemini Spark, Gemini 3.5 Flash, dan Gemini Omni menggambarkan bagaimana Google ingin membangun ekosistem di mana agen AI dapat mengoordinasikan informasi, membuat konten, dan menjalankan workflow kompleks di berbagai aplikasi.
Jika laju perkembangan yang digambarkan Pichai terus berlanjut, sangat mungkin bahwa dalam beberapa tahun ke depan, teknologi AI yang kita gunakan hari ini memang akan terlihat sangat sederhana—seperti ponsel flip dibandingkan smartphone modern.