Kementerian Pertahanan China menyatakan kesiapan membangun hubungan militer yang “stabil dan positif” dengan Amerika Serikat setelah KTT Xi–Trump di Beijing. Dialog militer diperluas untuk mengurangi salah perhitungan, menjaga komunikasi krisis, dan mengelola persaingan strategis kedua negara.

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: How did China’s Defense Ministry respond after the Xi-Trump Beijing summit, what did it signal about expanding U.S.-China military-to-milita. Article summary: China’s Defense Ministry cast the Xi-Trump Beijing summit as a reason to deepen military trust and keep U.S.-China military channels open, while still warning that Taiwan remained the most dangerous flashpoint. The broad. Topic tags: general, general web, user generated. Reference image context from search candidates: Reference image 1: visual subject "Mutual Fund and ETF data provided by LSEG. Lara Trump: It's up to this administration to build on the momentum. Fox News senior national correspondent Aishah Hasnie reports on the" source context "US, China agree to open direct military hotline after Xi-Trump summit" Reference image 2: visual subject "Mutual Fund
KTT antara Presiden China Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Beijing pada 14–15 Mei 2026 diikuti dengan pernyataan penting dari Kementerian Pertahanan China. Beijing memberi sinyal bahwa mereka terbuka untuk memperluas dialog militer dengan Washington—namun sekaligus menegaskan bahwa Taiwan tetap menjadi isu paling sensitif dalam hubungan kedua negara.
Pesan yang muncul setelah pertemuan tersebut mencerminkan strategi yang cukup jelas: menjaga jalur komunikasi tetap terbuka di tengah persaingan geopolitik yang semakin intens.
Setelah KTT, juru bicara Kementerian Pertahanan China menyatakan bahwa Beijing siap memperkuat kepercayaan militer dengan Amerika Serikat dan mengembangkan hubungan militer-ke-militer yang “stabil dan positif” berdasarkan kesetaraan, saling menghormati, dan hidup berdampingan secara damai.
Pernyataan ini juga menekankan pentingnya menjaga komunikasi antara angkatan bersenjata kedua negara untuk menghindari kesalahpahaman atau eskalasi yang tidak disengaja—terutama mengingat keduanya memiliki kekuatan militer terbesar di dunia.
Menurut pejabat China, perluasan dialog militer bertujuan untuk membantu kedua negara mengelola kompetisi strategis yang semakin kompleks. Upaya ini biasanya mencakup:
Pendekatan ini sejalan dengan gagasan “stabilitas strategis konstruktif” yang disebut dalam KTT—sebuah konsep yang menggambarkan hubungan di mana kerja sama tetap dijalankan, sementara persaingan dikelola agar tidak berubah menjadi konflik terbuka.
Walau Beijing menyampaikan pesan yang relatif terbuka soal dialog militer, nada keras tetap muncul terkait Taiwan.
Dalam pertemuan tersebut, Xi Jinping memperingatkan bahwa penanganan yang keliru terhadap isu Taiwan—terutama penjualan senjata Amerika Serikat kepada Taiwan—dapat memicu “bentrokan dan konflik.”
Taiwan telah lama menjadi isu inti bagi pemerintah China, yang menganggap pulau itu sebagai bagian dari wilayahnya. Sementara itu, Amerika Serikat tidak secara resmi mengakui Taiwan sebagai negara merdeka, tetapi tetap memasok senjata dan menjaga hubungan keamanan informal dengan Taipei.
Sejumlah laporan menjelang dan selama KTT menunjukkan bahwa penjualan senjata AS ke Taiwan menjadi salah satu perselisihan utama antara Beijing dan Washington.
Namun, tidak ada laporan yang menunjukkan bahwa pertemuan tersebut menghasilkan keputusan konkret mengenai perubahan kebijakan penjualan senjata AS ke Taiwan.
Pertemuan Xi–Trump juga membahas berbagai isu global dan ekonomi yang luas, menunjukkan betapa kompleksnya hubungan antara dua ekonomi terbesar dunia.
Topik yang dilaporkan masuk dalam pembahasan meliputi:
Agenda yang luas ini menggambarkan bagaimana persaingan AS–China kini mencakup bidang ekonomi, teknologi, hingga keamanan global secara bersamaan.
Selain pertemuan resmi, Xi dan Trump juga mengadakan pertemuan pribadi di Beijing pada 15 Mei, yang menandakan pentingnya komunikasi langsung antara kedua pemimpin.
Kedua pemerintah menggambarkan KTT tersebut sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas hubungan meskipun terdapat banyak perbedaan kebijakan.
Pernyataan Kementerian Pertahanan China setelah KTT menunjukkan dilema utama dalam hubungan AS–China saat ini.
Di satu sisi, persaingan strategis terus meningkat. Di sisi lain, kedua negara tampaknya sepakat bahwa saluran komunikasi—terutama antara militer—harus tetap terbuka untuk mencegah krisis berubah menjadi konflik langsung.
Dengan kata lain, pesan dari Beijing setelah KTT cukup jelas: dialog perlu diperluas dan stabilitas harus dijaga. Namun selama isu inti seperti Taiwan belum terselesaikan, risiko ketegangan tetap akan membayangi hubungan dua kekuatan besar dunia ini.
Studio Global AI
Use this topic as a starting point for a fresh source-backed answer, then compare citations before you share it.
Kementerian Pertahanan China menyatakan kesiapan membangun hubungan militer yang “stabil dan positif” dengan Amerika Serikat setelah KTT Xi–Trump di Beijing.
Kementerian Pertahanan China menyatakan kesiapan membangun hubungan militer yang “stabil dan positif” dengan Amerika Serikat setelah KTT Xi–Trump di Beijing. Dialog militer diperluas untuk mengurangi salah perhitungan, menjaga komunikasi krisis, dan mengelola persaingan strategis kedua negara.
Xi Jinping memperingatkan bahwa kesalahan penanganan isu Taiwan—terutama penjualan senjata AS ke Taiwan—dapat memicu “bentrokan dan konflik.” [2][3]