Popularitas yang meledak ini memicu respons cepat dari perusahaan pialang yang selama ini menjadi tulang punggung strategi tersebut:
Versi leveraged long-short dari direct indexing memanggang biaya besar: biaya manajemen, komisi perdagangan, dan biaya pendanaan. Dalam strategi 140/40 (140% posisi beli, 40% posisi jual), biaya pendanaan setelah pajak saja sudah sekitar 0,23% per tahun . Analisis rinci dari Elm Wealth menemukan, untuk investor pada umumnya, biaya yang dibayarkan kepada manajer leveraged long/short bisa menyedot lebih dari separuh penghematan pajak yang dihasilkan. Hasil akhirnya? Imbal hasil setelah pajak justru lebih rendah daripada jika investor hanya membeli ETF biasa .
Penelitian AQR sendiri menunjukkan bahwa manfaat pajak dari strategi direct indexing "cepat membusuk seiring waktu" . Tanpa tambahan dana baru secara rutin, keuntungan pajak ini hanya efektif bagi investor yang secara teratur memiliki keuntungan jangka pendek dari sumber lain. Bagi investor yang hanya memiliki keuntungan jangka panjang, AQR menemukan bahwa manfaat pajaknya "berkurang menjadi nol setelah sekitar lima tahun sejak awal investasi" . Simulasi historis juga menunjukkan bahwa direct indexing biasanya hanya mampu merealisasikan sekitar 30% dari total modal awal sebagai kerugian bersih kumulatif, sebelum akhirnya kehabisan peluang untuk dipanen .
Memiliki saham secara individual, alih-alih membeli ETF, pasti akan menimbulkan tracking error—yaitu kinerja portofolio yang bisa melenceng dari indeks acuan . White paper dari Rain Dog Financial bahkan berargumen bahwa direct indexing "meningkatkan biaya dan merusak efektivitas tax loss harvesting" karena personalisasi yang ditawarkan justru dilakukan "dengan mengorbankan munculnya tracking error, yang pada akhirnya mengubah strategi pasif menjadi manajemen aktif" .
Seorang investor pensiunan yang menggunakan jasanya bisa menjadi pelajaran berharga. Di dalam portofolio direct-indexing miliknya, ada saham Lockheed Martin yang dibeli dengan harga tinggi saat awal investasi. Ketika harga saham Lockheed jatuh, sistem secara otomatis menjual saham tersebut untuk 'memanen' kerugian pajak. Masalahnya, investor itu sangat bergantung pada dividen saham tersebut untuk biaya hidup sehari-hari dan tidak ingin menjualnya. Namun, sistem tetap memaksanya menjual dan merealisasikan kerugian yang seharusnya bisa ia tahan .
Penjualan ini menyebabkan kerugian modal permanen, bukan sekadar pengurang pajak. Dan saat sistem membeli saham pengganti, hasilnya adalah posisi dengan imbal hasil yang lebih rendah, tidak sesuai dengan kebutuhan pendapatan pensiunan tersebut . Ini adalah contoh nyata risiko utama: tax-loss harvesting bekerja secara sistematis dan tanpa pandang bulu. Bagi portofolio kecil di mana setiap posisi saham punya arti besar, kerugian yang dipaksakan ini bisa menjadi hasil yang lebih buruk daripada tagihan pajak yang seharusnya dibayar.
Para pakar keuangan secara luas menyimpulkan bahwa strategi-strategi ini paling cocok untuk investor dengan kekayaan bersih sangat tinggi, yang memiliki portofolio besar, sering mendapatkan keuntungan jangka pendek, dan bisa menyetor modal tambahan kapan saja. Bagi investor kebanyakan, kombinasi antara biaya tinggi, risiko melenceng dari acuan, bahaya margin call, dan manfaat pajak yang cepat habis, membuat 'obat' ini seringkali lebih buruk daripada 'penyakitnya' .
Schwab Center for Financial Research memang memperkirakan bahwa tax-loss harvesting idealnya bisa memberikan tambahan imbal hasil 1–2% per tahun setelah pajak. Namun, perhitungan itu mengasumsikan biaya yang rendah dan kerugian yang cukup besar—asumsi yang tidak realistis untuk akun-akun kecil .