Kombinasi dolar AS yang kuat, harga minyak di atas $120 per barel, dan ketegangan geopolitik di sekitar Iran dan Selat Hormuz menekan beberapa mata uang Asia hingga ke level terendah. Negara pengimpor energi seperti India dan Filipina sangat terdampak karena kenaikan harga minyak meningkatkan kebutuhan dolar untuk m...

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: How are the record lows in the Sri Lankan rupee, Philippine peso, and Indian rupee being driven by the strong U.S. dollar, higher-for-longer. Article summary: The three currencies are being hit by the same external shock: a stronger dollar, sticky U.S. rates, higher oil-import costs, and Iran/Strait of Hormuz risk are pushing investors out of emerging-market FX while worsening. Topic tags: general, general web, user generated. Reference image context from search candidates: Reference image 1: visual subject "The Indian Rupee weakened further against the US Dollar on May 13, with the USD/INR pair touching a fresh record high of 95.80 during volatile trading sessions. In currency markets" source context "Indian Rupee Slides to a Fresh Record Low: Why India’s Currency Remains Under Pressure | India Infoline" Reference i
Pasar mata uang di Asia sedang menghadapi tekanan besar karena beberapa guncangan global terjadi secara bersamaan: dolar AS yang sangat kuat, lonjakan harga minyak dunia, dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kombinasi ini membuat sejumlah mata uang negara berkembang—termasuk rupee India, peso Filipina, dan rupee Sri Lanka—jatuh ke rekor atau level terendah dalam beberapa tahun.
Walau berasal dari ekonomi yang berbeda, penyebab pelemahannya hampir sama: investor global memindahkan dana ke aset berbasis dolar, biaya impor energi melonjak, dan pemerintah harus menggunakan cadangan devisa untuk menahan gejolak nilai tukar.
Salah satu faktor utama adalah kekuatan dolar AS. Ketika suku bunga di Amerika Serikat tetap tinggi lebih lama, investor global cenderung memindahkan modal ke aset dolar seperti obligasi pemerintah AS.
Akibatnya, arus dana keluar dari pasar negara berkembang meningkat, sehingga mata uang lokal melemah. Selain itu, suku bunga AS yang tinggi juga membuat utang dalam dolar lebih mahal dan meningkatkan harga impor yang dibayar dengan dolar, terutama komoditas seperti minyak. Ekspektasi bahwa suku bunga AS akan tetap tinggi memperkuat tekanan terhadap mata uang negara berkembang.
Di tengah kondisi ini, rupee India sempat menyentuh sekitar 95,7375 per dolar sebelum akhirnya ditutup di sekitar 95,6275 dalam satu sesi perdagangan.
Guncangan kedua datang dari pasar energi. Harga minyak mentah kembali melonjak di atas sekitar $120 per barel, yang langsung menekan mata uang negara pengimpor energi.
Ketika harga minyak naik, negara yang bergantung pada impor energi harus membeli lebih banyak dolar untuk membayar pengiriman minyak. Hal ini menyebabkan:
Ketiga faktor tersebut biasanya membuat mata uang lokal melemah.
Negara seperti India dan Filipina sangat rentan karena sebagian besar kebutuhan energi mereka berasal dari impor. Saat harga minyak melonjak, rupee dan peso ikut melemah bersama mata uang emerging market lainnya.
Situasi semakin rumit karena faktor geopolitik. Ketegangan yang meningkat melibatkan Iran—terutama kekhawatiran gangguan di Selat Hormuz, salah satu jalur pengiriman minyak paling penting di dunia—telah mendorong harga energi naik dan membuat investor menjadi lebih berhati‑hati.
Asia sangat bergantung pada jalur ini. Sekitar 80% minyak yang melewati Selat Hormuz dibeli oleh negara‑negara Asia, sehingga gangguan pasokan bisa langsung berdampak pada ekonomi kawasan.
Sejak konflik tersebut pecah pada awal 2026, rupee India telah melemah sekitar 4,5%, sejalan dengan pelemahan beberapa mata uang Asia lainnya.
Rupee menjadi salah satu mata uang besar Asia dengan kinerja terburuk tahun ini. Para trader melaporkan bahwa Reserve Bank of India kemungkinan beberapa kali melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menahan volatilitas setelah rupee mencapai rekor terendah.
Tekanan terhadap rupee datang dari tiga arah sekaligus:
Peso Filipina juga melemah ketika investor global beralih ke dolar saat ketegangan geopolitik meningkat. Dalam salah satu sesi perdagangan, peso turun hingga sekitar 61,48 per dolar AS.
Untuk menstabilkan pasar, pemerintah dan bank sentral sebagian menggunakan cadangan devisa. Sejak konflik dimulai, cadangan devisa Filipina dilaporkan turun sekitar 8,1% menjadi sekitar $104 miliar, sebagian karena upaya menstabilkan mata uang.
Sri Lanka mengambil pendekatan berbeda: mengurangi permintaan dolar dengan membatasi impor.
Pada Mei 2026, pemerintah memberlakukan surcharge 50% pada impor kendaraan (kecuali motor dan kendaraan roda tiga) selama tiga bulan. Kebijakan ini bertujuan menunda pembelian mobil impor dan menghemat cadangan devisa ketika rupee berada di bawah tekanan.
Pejabat pemerintah menyatakan langkah tersebut dirancang untuk mengurangi kebutuhan dolar dalam jangka pendek dan menjaga stabilitas posisi devisa negara.
Di berbagai negara Asia, bank sentral menggunakan beberapa alat kebijakan untuk memperlambat pelemahan mata uang:
Langkah‑langkah ini bisa mengurangi volatilitas dalam jangka pendek, tetapi biasanya tidak cukup untuk membalikkan tren jika tekanan berasal dari faktor global seperti harga energi dan kebijakan moneter AS.
Jika harga minyak tetap tinggi dan dolar tetap kuat, tekanan pada mata uang dapat meluas menjadi masalah ekonomi yang lebih besar. Kenaikan biaya energi bisa:
Bagi banyak negara berkembang, episode ini menunjukkan kerentanan yang sudah lama dikenal: ketika modal global mengetat dan harga komoditas melonjak secara bersamaan, pasar mata uang biasanya menjadi titik tekanan pertama—dan pembuat kebijakan harus bergerak cepat untuk mencegah krisis yang lebih luas.
Studio Global AI
Use this topic as a starting point for a fresh source-backed answer, then compare citations before you share it.
Kombinasi dolar AS yang kuat, harga minyak di atas $120 per barel, dan ketegangan geopolitik di sekitar Iran dan Selat Hormuz menekan beberapa mata uang Asia hingga ke level terendah.
Kombinasi dolar AS yang kuat, harga minyak di atas $120 per barel, dan ketegangan geopolitik di sekitar Iran dan Selat Hormuz menekan beberapa mata uang Asia hingga ke level terendah. Negara pengimpor energi seperti India dan Filipina sangat terdampak karena kenaikan harga minyak meningkatkan kebutuhan dolar untuk membayar impor dan memperlebar defisit perdagangan.
Pemerintah dan bank sentral merespons dengan intervensi valuta asing, penggunaan cadangan devisa, serta kebijakan seperti surcharge 50% Sri Lanka pada impor kendaraan untuk menekan permintaan dolar.