Saudi Arabia dan Uni Emirat Arab (UEA) dilaporkan mendorong Jepang menaikkan stok minyak mentah masing masing dari sekitar 8 juta barel hingga sekitar 80 juta barel, dengan pembicaraan serupa di Korea Selatan. Skema ini melanjutkan kerja sama penyimpanan minyak Jepang–Teluk yang sudah ada, sementara jaringan pipa da...
Jawaban penelitian

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: How are Saudi Arabia and the United Arab Emirates responding to the effective closure of the Strait of Hormuz amid the 2026 conflict with Ir. Article summary: Saudi Arabia and the UAE are seeking to turn Asian storage into a second layer of export security: placing more of their crude in Japan—and reportedly discussing similar arrangements with South Korea—so it can be deliver. Topic tags: general, news, general web, education, government. Style: premium digital editorial illustration, source-backed research mood, clean composition, high detail, modern web publication hero. Use reference image context only for broad subject, composition, and topical grounding; do not copy the exact image. Avoid: logos, brand marks, copyrighted characters, real person likenesses, fake screenshots, UI text, readable text, watermarks, c
Saudi Arabia dan Uni Emirat Arab (UEA) dilaporkan ingin memperbesar stok minyak mentah mereka di Jepang hingga sepuluh kali lipat. Saat ini, masing-masing negara menyimpan sekitar 8 juta barel di fasilitas Jepang. Pejabat kedua negara juga disebut membahas pengaturan serupa di Korea Selatan.
Gagasannya cukup sederhana: menyimpan minyak mentah yang siap dijual di luar kawasan Teluk agar tetap bisa dikirim kepada pelanggan Asia jika pelayaran dari Teluk Persia terus terhambat.
Namun, ini adalah strategi lindung nilai, bukan pengganti Selat Hormuz. Stok di Asia dapat memberi waktu tambahan selama krisis dan membantu menjaga hubungan pemasok-pelanggan, tetapi dampaknya tetap dibatasi oleh kapasitas tangki, pelabuhan, aturan cadangan, keamanan jalur hilir, serta biaya operasional.
Selat Hormuz merupakan salah satu titik sempit paling penting bagi perdagangan energi dunia. Dalam kondisi normal, sekitar seperlima arus minyak dan gas alam cair (LNG) global melewati selat tersebut. Konflik yang berlangsung membuat pelayaran komersial praktis tidak tersedia atau terlalu mahal bagi banyak kapal.
Jepang sangat rentan terhadap gangguan ini. Sekitar 95 persen pasokan minyaknya berasal dari Timur Tengah, sedangkan sekitar 70 persen impor minyaknya biasanya melewati Hormuz. Pada Maret, Jepang melaporkan cadangan darurat yang setara dengan 254 hari konsumsi, termasuk stok pemerintah, sektor swasta, dan cadangan yang terkait dengan produsen minyak.
Stok minyak milik produsen Teluk yang ditempatkan di Asia menawarkan perlindungan dengan mekanisme berbeda. Jika terjadi gangguan, Jepang atau pembeli Asia lainnya dapat mengambil minyak yang sudah berada dekat kilang, tanpa harus menunggu kapal memuat minyak di dalam Teluk.
Bagi Saudi Arabia dan UEA, skema ini juga menjaga akses ke pelanggan Asia sekaligus menyediakan basis pasokan di luar zona konflik langsung.
Korea Selatan menempuh pendekatan diversifikasi yang serupa. Seoul menyatakan telah mengatur 273 juta barel minyak mentah dan 2,1 juta ton nafta hingga akhir tahun melalui rute di luar Hormuz. Korea Selatan juga membahas pembangunan pipa pintas dan fasilitas penyimpanan di luar selat tersebut.
Usulan tersebut bukan sepenuhnya gagasan baru. Jepang dan Abu Dhabi memulai proyek penyimpanan bersama di Kagoshima pada 2009. Pengaturan itu dirancang agar Jepang memiliki akses ke minyak untuk keadaan darurat, sekaligus memberi Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) basis pasokan di Asia.
Jepang dan UEA kemudian memperpanjang serta memperluas kerja sama itu. Kapasitas yang disewa ADNOC dilaporkan telah mencapai lebih dari 8 juta barel.
Jepang juga memiliki sejarah menyimpan minyak mentah Saudi di Okinawa. Berdasarkan kesepakatan dengan Saudi Aramco, perusahaan tersebut dapat menyimpan hingga 6,3 juta barel minyak di sana. Pengaturan serupa pernah berlaku bagi ADNOC di Kyushu.
Karena itu, inisiatif terbaru tampaknya merupakan perluasan model yang sudah berjalan, bukan penciptaan sistem baru dari nol. Pada 2026, Jepang dan UEA sepakat membahas peningkatan pasokan minyak UEA serta perluasan stok bersama. Akan tetapi, laporan yang tersedia belum menetapkan volume akhir, skema pembiayaan, maupun ketentuan operasionalnya.
Jika stok sekitar 8 juta barel itu benar-benar diperbesar sepuluh kali lipat, masing-masing negara akan membutuhkan ruang untuk sekitar 80 juta barel di Jepang. Skalanya akan menjadi proyek logistik besar, bukan sekadar mengisi tangki yang kebetulan kosong.
Beberapa persoalan yang harus diselesaikan antara lain:
Dengan demikian, laporan publik sejauh ini mengonfirmasi adanya pembicaraan dan kerja sama yang sudah berlangsung—bukan kesepakatan ekspansi sepuluh kali lipat yang telah selesai.
Saudi Arabia dan UEA juga mengandalkan infrastruktur yang dapat mengalirkan sebagian minyak menuju terminal di luar Selat Hormuz. Industri penyulingan Jepang telah menyerukan diversifikasi sumber pasokan dan pengembangan alternatif bagi minyak yang biasanya melewati Hormuz, termasuk dukungan terhadap proyek pipa pintas.
Negara-negara Teluk juga memperluas jalur alternatif, tetapi pembangunannya membutuhkan biaya besar dan waktu bertahun-tahun.
Jalur tersebut memang menambah redundansi, tetapi tidak membuat kawasan itu kebal terhadap gangguan maritim. Minyak Saudi yang dikirim melalui rute Laut Merah masih dapat menghadapi risiko di Bab el-Mandeb. Sementara itu, ekspor UEA melalui Fujairah tetap bergantung pada kapasitas pelabuhan serta keamanan pelayaran setelah keluar dari Teluk Oman.
Laut Merah telah menunjukkan persoalan tersebut. Blokade oleh kelompok Houthi yang dilaporkan memengaruhi pelayaran Saudi di Bab el-Mandeb menciptakan ancaman kedua bagi pasokan minyak ke Asia ketika kilang masih menghadapi gangguan di Hormuz.
Pelajaran yang lebih luas adalah bahwa pipa, tangki penyimpanan, dan terminal alternatif paling efektif jika digunakan sebagai beberapa lapisan perlindungan. Tidak ada satu pun yang dapat menggantikan lalu lintas Hormuz secara penuh pada skala yang dibutuhkan eksportir Teluk dan kilang Asia.
Kampanye sanksi Washington memberi alasan tambahan bagi pembeli Asia untuk mengamankan minyak non-Iran di luar zona konflik. Departemen Keuangan AS telah menjatuhkan sanksi terhadap Hengli Petrochemical, kilang independen berbasis di China, serta sekitar 40 perusahaan pelayaran dan kapal yang dikaitkan dengan perdagangan minyak Iran.
Presiden Donald Trump dan Menteri Keuangan Scott Bessent juga mengisyaratkan langkah lanjutan yang disebut belum pernah terjadi sebelumnya. Namun, cakupan akhirnya—termasuk kemungkinan tindakan terhadap kilang atau bank China lainnya—belum dipastikan dalam laporan yang tersedia.
Bagi Iran, pembatasan yang lebih ketat terhadap penjualan minyak, pelayaran, dan pembayaran dapat mengurangi pendapatan valuta asing ketika konflik sekaligus menaikkan biaya transportasi dan kebutuhan konsumen. Kombinasi ini berpotensi memperburuk inflasi dan kelangkaan, serta meningkatkan tekanan untuk mengendalikan permintaan bahan bakar.
Meski demikian, bukti yang tersedia belum menunjukkan bahwa penjatahan energi secara nasional di Iran telah diberlakukan. Karena itu, hal tersebut sebaiknya dipandang sebagai risiko, bukan perkembangan yang sudah terkonfirmasi.
Bagi Saudi Arabia, UEA, Jepang, dan Korea Selatan, lingkungan sanksi membuat kepastian rantai pasok semakin berharga. Di sisi lain, sanksi juga dapat memperumit kerja sama penyimpanan karena kepemilikan kargo, jalur pembayaran, perusahaan asuransi, kapal, dan tujuan akhir minyak akan diawasi lebih ketat.
Stok di luar negeri, pemasok alternatif, pipa pintas, dan cadangan strategis dapat mengurangi durasi serta dampak ekonomi dari guncangan di Hormuz. Namun, langkah-langkah tersebut tidak dapat segera menggantikan seluruh pasokan yang hilang jika penutupan berlangsung lama. Salah satu perkiraan menyebut arus minyak global berkurang sekitar 11 juta barel per hari setelah memperhitungkan berbagai upaya untuk mengurangi dampak gangguan.
Itulah sebabnya pembicaraan dengan Jepang dan Korea Selatan penting, meskipun tidak diwujudkan dalam skala yang diusulkan. Langkah tersebut menunjukkan perubahan cara pandang: Selat Hormuz mulai diperlakukan bukan sekadar sebagai risiko pelayaran sementara, melainkan sebagai kerentanan struktural dalam rantai pasok energi.
Solusi jangka panjang yang paling realistis adalah kombinasi beberapa langkah: menambah penyimpanan di dekat kilang Asia, memperluas kapasitas pipa dan terminal, mendiversifikasi pembelian minyak mentah, memperjelas aturan pelepasan cadangan darurat, dan mengurangi permintaan minyak.
Kendalanya, semua langkah itu membutuhkan waktu, biaya, dan koordinasi. Jika Hormuz, Laut Merah, pasar asuransi, kepatuhan terhadap sanksi, dan persediaan kilang Asia mengalami tekanan secara bersamaan, tidak ada satu pun stok minyak yang mampu menjadi penyangga sempurna.
Studio Global AI
Halaman ini berisi jawaban yang didukung sumber yang dapat Anda lanjutkan di dalam Studio Global.
Saudi Arabia dan Uni Emirat Arab (UEA) dilaporkan mendorong Jepang menaikkan stok minyak mentah masing masing dari sekitar 8 juta barel hingga sekitar 80 juta barel, dengan pembicaraan serupa di Korea Selatan.
Saudi Arabia dan Uni Emirat Arab (UEA) dilaporkan mendorong Jepang menaikkan stok minyak mentah masing masing dari sekitar 8 juta barel hingga sekitar 80 juta barel, dengan pembicaraan serupa di Korea Selatan. Skema ini melanjutkan kerja sama penyimpanan minyak Jepang–Teluk yang sudah ada, sementara jaringan pipa dan pelabuhan alternatif memberi lapisan perlindungan tambahan dari gangguan di Selat Hormuz.
Sanksi baru Amerika Serikat terhadap jaringan minyak Iran—termasuk kilang China Hengli dan sekitar 40 perusahaan serta kapal—dapat meningkatkan permintaan atas minyak non Iran, sekaligus menambah tekanan terhadap ekon...