Pernyataan tersebut terdengar meyakinkan. Persoalannya, apakah narasi itu bisa bertahan ketika perusahaan yang sama sedang mengejar efisiensi, otomatisasi, dan—dalam kasus HSBC—potensi pengurangan tenaga kerja dalam jumlah besar?
Dalam wawancara dengan Bloomberg pada 8 Juni 2026, Elhedery berusaha meredakan kekhawatiran karyawan setelah muncul laporan bahwa HSBC sedang mempertimbangkan pengurangan hingga 20.000 posisi—sekitar 10% dari tenaga kerja globalnya—dalam tiga hingga lima tahun mendatang . Posisi di fungsi middle office dan back office, terutama yang tidak berhubungan langsung dengan nasabah, disebut paling rentan terhadap otomatisasi berbasis AI .
Elhedery menyampaikan pesan yang dirancang untuk menjadi penegasan sederhana namun kuat:
“Saya membutuhkan penilaian manusia, pengambilan keputusan manusia, dan akuntabilitas manusia.”
Ia juga mengatakan bahwa AI justru dapat mendorong lebih banyak perekrutan pada masa depan dan menegaskan bahwa manusia akan tetap menjadi pusat perbankan meskipun AI semakin umum digunakan .
Pernyataan itu muncul beberapa pekan setelah CEO Standard Chartered Bill Winters memicu kegelisahan di industri perbankan dengan mengatakan bahwa banknya akan menggantikan “modal manusia bernilai lebih rendah” dengan teknologi. Standard Chartered berencana menghapus sekitar 7.000 hingga 8.000 posisi back office pada 2030 . Winters kemudian meminta maaf atas pilihan katanya .
HSBC tidak hanya berbicara tentang tata kelola AI. Bank tersebut juga mulai membangun struktur untuk mengelolanya:
Di sinilah kesenjangan kredibilitas muncul. HSBC belum menyangkal laporan tentang peninjauan 20.000 posisi . Strategi komunikasinya bertumpu pada pembedaan antara tugas administratif yang dapat diotomatisasi dan penilaian manusia yang tetap dibutuhkan untuk hubungan nasabah, keputusan risiko, serta akuntabilitas.
Bagi karyawan di pusat layanan global yang posisinya masuk dalam peninjauan, pembedaan tersebut mungkin terasa kurang berarti. Dalam pekerjaan perbankan, tugas administratif dan pengambilan keputusan sering kali saling berkelindan.
Walmart menghadapi persoalan yang berbeda. Sebagai perusahaan swasta dengan jumlah karyawan terbesar di Amerika Serikat, Walmart harus memperkenalkan AI ke sekitar 2,1 juta posisi tanpa memicu eksodus tenaga kerja atau krisis reputasi.
Dalam acara tahunan “Associates Week” di Arkansas pada Juni 2026, Morris menyampaikan slogan utama strategi AI Walmart kepada ribuan pekerja: “Teknologi akan menggerakkan masa depan kami. Namun, para karyawanlah yang akan memimpinnya” .
Pesannya jelas: AI dimaksudkan untuk memperbaiki pekerjaan, bukan menggantikannya .
Pendekatan Walmart tampak lebih berfokus pada peningkatan keterampilan massal daripada pengurangan jumlah karyawan. Beberapa inisiatifnya meliputi:
Berbeda dari HSBC, Walmart belum mengumumkan PHK besar-besaran yang didorong AI. Model bisnisnya lebih menekankan peningkatan produktivitas dalam pekerjaan yang sudah ada—seperti pengelolaan inventaris, kasir, dan layanan pelanggan—ketimbang mengganti seluruh tenaga kerja dengan mesin .
Namun, skala pelatihannya sendiri menjadi tantangan. Membekali 2,1 juta orang dengan keterampilan AI bukan sekadar persoalan menyediakan akses ke kursus. Kualitas pelatihan akan menentukan apakah para karyawan benar-benar memimpin perubahan atau hanya belajar beradaptasi dengan pekerjaan yang perlahan menyusut.
Perdebatan ini sulit dipahami tanpa melihat langkah Standard Chartered. Pada Mei 2026, bank tersebut menjadi salah satu bank global besar pertama yang menyebutkan angka dan tenggat waktu secara spesifik untuk pengurangan tenaga kerja yang dikaitkan dengan AI.
Standard Chartered berencana menghapus sekitar 7.000 hingga 8.000 posisi back office pada 2030, atau lebih dari 15% tenaga kerja di fungsi korporatnya . Winters menggambarkan langkah itu sebagai penggantian “modal manusia bernilai lebih rendah” dengan investasi finansial dan teknologi . Ia kemudian meminta maaf atas pernyataan tersebut .
Terlepas dari permintaan maaf itu, pengumuman Standard Chartered memperjelas kecemasan yang dirasakan pekerja di sektor keuangan: jika bank lain mulai mengganti pekerjaan dengan AI, siapa yang akan menyusul?
Pertanyaan itu juga mengarah ke HSBC. Penekanan Elhedery pada penilaian manusia menjadi jawaban yang lebih halus terhadap ketakutan yang diperbesar oleh pernyataan Winters.
Inisiatif kedua perusahaan tersebut bukan sekadar slogan. Walmart memang menjalankan salah satu program peningkatan keterampilan AI paling besar di sektor ritel, sementara penunjukan Chief AI Officer menunjukkan bahwa HSBC mencoba membangun tata kelola AI secara lebih terstruktur .
Namun, posisi HSBC lebih sulit dipertahankan. Sulit bagi karyawan untuk menyatukan pesan bahwa penilaian manusia tidak tergantikan dengan pernyataan bahwa AI akan menekan biaya tenaga kerja dan laporan tentang peninjauan 20.000 posisi . Kepercayaan mereka bergantung pada asumsi bahwa batas antara “tugas administratif” dan “penilaian manusia” akan tetap jelas.
Walmart memiliki posisi yang relatif lebih kuat karena belum mengumumkan PHK besar-besaran akibat AI dan mengaitkan strateginya dengan pelatihan. Meski demikian, janji “para karyawan akan memimpin” tetap harus dibuktikan melalui akses pelatihan yang nyata, keterampilan yang benar-benar berguna, dan peluang kerja yang bertahan setelah transformasi berlangsung.
Untuk saat ini, narasi people-first adalah pilihan komunikasi yang paling aman bagi perusahaan. Keberhasilannya tidak akan diukur dari seberapa fasih para eksekutif menyampaikan slogan, melainkan dari berapa banyak karyawan yang masih memiliki pekerjaan ketika transformasi AI selesai.
Pernyataan tersebut terdengar meyakinkan. Persoalannya, apakah narasi itu bisa bertahan ketika perusahaan yang sama sedang mengejar efisiensi, otomatisasi, dan—dalam kasus HSBC—potensi pengurangan tenaga kerja dalam jumlah besar?
Dalam wawancara dengan Bloomberg pada 8 Juni 2026, Elhedery berusaha meredakan kekhawatiran karyawan setelah muncul laporan bahwa HSBC sedang mempertimbangkan pengurangan hingga 20.000 posisi—sekitar 10% dari tenaga kerja globalnya—dalam tiga hingga lima tahun mendatang . Posisi di fungsi middle office dan back office, terutama yang tidak berhubungan langsung dengan nasabah, disebut paling rentan terhadap otomatisasi berbasis AI .
Elhedery menyampaikan pesan yang dirancang untuk menjadi penegasan sederhana namun kuat:
“Saya membutuhkan penilaian manusia, pengambilan keputusan manusia, dan akuntabilitas manusia.”
Ia juga mengatakan bahwa AI justru dapat mendorong lebih banyak perekrutan pada masa depan dan menegaskan bahwa manusia akan tetap menjadi pusat perbankan meskipun AI semakin umum digunakan .
Pernyataan itu muncul beberapa pekan setelah CEO Standard Chartered Bill Winters memicu kegelisahan di industri perbankan dengan mengatakan bahwa banknya akan menggantikan “modal manusia bernilai lebih rendah” dengan teknologi. Standard Chartered berencana menghapus sekitar 7.000 hingga 8.000 posisi back office pada 2030 . Winters kemudian meminta maaf atas pilihan katanya .
HSBC tidak hanya berbicara tentang tata kelola AI. Bank tersebut juga mulai membangun struktur untuk mengelolanya:
Di sinilah kesenjangan kredibilitas muncul. HSBC belum menyangkal laporan tentang peninjauan 20.000 posisi . Strategi komunikasinya bertumpu pada pembedaan antara tugas administratif yang dapat diotomatisasi dan penilaian manusia yang tetap dibutuhkan untuk hubungan nasabah, keputusan risiko, serta akuntabilitas.
Bagi karyawan di pusat layanan global yang posisinya masuk dalam peninjauan, pembedaan tersebut mungkin terasa kurang berarti. Dalam pekerjaan perbankan, tugas administratif dan pengambilan keputusan sering kali saling berkelindan.
Walmart menghadapi persoalan yang berbeda. Sebagai perusahaan swasta dengan jumlah karyawan terbesar di Amerika Serikat, Walmart harus memperkenalkan AI ke sekitar 2,1 juta posisi tanpa memicu eksodus tenaga kerja atau krisis reputasi.
Dalam acara tahunan “Associates Week” di Arkansas pada Juni 2026, Morris menyampaikan slogan utama strategi AI Walmart kepada ribuan pekerja: “Teknologi akan menggerakkan masa depan kami. Namun, para karyawanlah yang akan memimpinnya” .
Pesannya jelas: AI dimaksudkan untuk memperbaiki pekerjaan, bukan menggantikannya .
Pendekatan Walmart tampak lebih berfokus pada peningkatan keterampilan massal daripada pengurangan jumlah karyawan. Beberapa inisiatifnya meliputi:
Berbeda dari HSBC, Walmart belum mengumumkan PHK besar-besaran yang didorong AI. Model bisnisnya lebih menekankan peningkatan produktivitas dalam pekerjaan yang sudah ada—seperti pengelolaan inventaris, kasir, dan layanan pelanggan—ketimbang mengganti seluruh tenaga kerja dengan mesin .
Namun, skala pelatihannya sendiri menjadi tantangan. Membekali 2,1 juta orang dengan keterampilan AI bukan sekadar persoalan menyediakan akses ke kursus. Kualitas pelatihan akan menentukan apakah para karyawan benar-benar memimpin perubahan atau hanya belajar beradaptasi dengan pekerjaan yang perlahan menyusut.
Perdebatan ini sulit dipahami tanpa melihat langkah Standard Chartered. Pada Mei 2026, bank tersebut menjadi salah satu bank global besar pertama yang menyebutkan angka dan tenggat waktu secara spesifik untuk pengurangan tenaga kerja yang dikaitkan dengan AI.
Standard Chartered berencana menghapus sekitar 7.000 hingga 8.000 posisi back office pada 2030, atau lebih dari 15% tenaga kerja di fungsi korporatnya . Winters menggambarkan langkah itu sebagai penggantian “modal manusia bernilai lebih rendah” dengan investasi finansial dan teknologi . Ia kemudian meminta maaf atas pernyataan tersebut .
Terlepas dari permintaan maaf itu, pengumuman Standard Chartered memperjelas kecemasan yang dirasakan pekerja di sektor keuangan: jika bank lain mulai mengganti pekerjaan dengan AI, siapa yang akan menyusul?
Pertanyaan itu juga mengarah ke HSBC. Penekanan Elhedery pada penilaian manusia menjadi jawaban yang lebih halus terhadap ketakutan yang diperbesar oleh pernyataan Winters.
Inisiatif kedua perusahaan tersebut bukan sekadar slogan. Walmart memang menjalankan salah satu program peningkatan keterampilan AI paling besar di sektor ritel, sementara penunjukan Chief AI Officer menunjukkan bahwa HSBC mencoba membangun tata kelola AI secara lebih terstruktur .
Namun, posisi HSBC lebih sulit dipertahankan. Sulit bagi karyawan untuk menyatukan pesan bahwa penilaian manusia tidak tergantikan dengan pernyataan bahwa AI akan menekan biaya tenaga kerja dan laporan tentang peninjauan 20.000 posisi . Kepercayaan mereka bergantung pada asumsi bahwa batas antara “tugas administratif” dan “penilaian manusia” akan tetap jelas.
Walmart memiliki posisi yang relatif lebih kuat karena belum mengumumkan PHK besar-besaran akibat AI dan mengaitkan strateginya dengan pelatihan. Meski demikian, janji “para karyawan akan memimpin” tetap harus dibuktikan melalui akses pelatihan yang nyata, keterampilan yang benar-benar berguna, dan peluang kerja yang bertahan setelah transformasi berlangsung.
Untuk saat ini, narasi people-first adalah pilihan komunikasi yang paling aman bagi perusahaan. Keberhasilannya tidak akan diukur dari seberapa fasih para eksekutif menyampaikan slogan, melainkan dari berapa banyak karyawan yang masih memiliki pekerjaan ketika transformasi AI selesai.