Harga minyak turun setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan perang dengan Iran bisa berakhir “sangat cepat,” tetapi pasar tetap berhati‑hati karena gangguan pasokan di Selat Hormuz yang mengalirkan sekitar 20% miny... Pergerakan harga kini sangat dipengaruhi oleh negosiasi AS–Iran; setiap sinyal diplomasi bisa me...

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: How are global oil markets reacting to President Donald Trump’s claim that the war with Iran will end “very quickly,” what role are ongoing. Article summary: Global oil markets are reacting with cautious relief, not full confidence: crude prices eased after Trump said the Iran war would end “very quickly,” but traders are still pricing in major supply risk because diplomacy h. Topic tags: general, general web. Reference image context from search candidates: Reference image 1: visual subject "Oil prices ease after Trump says US will end Iran war 'very quickly' - Finance news and analysis from Global Banking & Finance Review" source context "Oil Prices Dip as Trump Predicts Swift End to Iran War" Reference image 2: visual subject "Global Banking & Finance Awards 2026 — Call for Entries" source context "Oil Prices Dip a
Pasar minyak global merespons klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahwa perang dengan Iran akan berakhir “sangat cepat” dengan optimisme yang hati‑hati. Harga minyak mentah memang sempat turun setelah pernyataan itu, tetapi para pelaku pasar belum sepenuhnya yakin karena gangguan pasokan—terutama di kawasan Selat Hormuz—belum benar‑benar pulih.
Pernyataan Trump memicu penurunan moderat harga minyak karena investor menafsirkan komentar tersebut sebagai sinyal bahwa negosiasi mungkin bergerak menuju penyelesaian konflik.
Setelah pernyataan itu, harga minyak Brent turun sedikit, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) di AS juga melemah tipis. Penurunan ini menunjukkan pasar sedang menyesuaikan ekspektasi tentang berapa lama konflik bisa berlangsung.
Selama konflik berlangsung, pola ini sering terlihat: harga minyak turun ketika ada sinyal diplomasi, lalu naik lagi ketika harapan damai memudar.
Sebagai contoh, pada awal Mei harga minyak sempat naik mendekati sekitar US$105 per barel setelah Trump meragukan kemungkinan gencatan senjata dan menolak sebagian proposal perdamaian dari Iran.
Volatilitas ini menunjukkan betapa sensitifnya pasar energi terhadap perkembangan politik di Washington, Teheran, dan kawasan Timur Tengah secara lebih luas.
Negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran kini menjadi faktor utama yang memengaruhi ekspektasi pasar minyak.
Jika terjadi terobosan diplomatik yang kredibel—misalnya gencatan senjata atau kesepakatan damai—premi risiko geopolitik yang selama ini mendorong harga minyak bisa turun dengan cepat.
Laporan terbaru menyebutkan bahwa Iran telah mengirimkan revisi syarat untuk kemungkinan kesepakatan damai, sementara Washington menunda beberapa rencana aksi militer selama proses yang disebut sebagai “negosiasi serius.”
Namun, arah diplomasi masih belum pasti. Pejabat Iran mengatakan prioritas utama mereka adalah mengakhiri perang, sementara isu lain seperti pembicaraan nuklir yang lebih luas belum dibahas secara mendalam. Kondisi ini membuat investor ragu apakah negosiasi akan menghasilkan perdamaian jangka panjang atau hanya jeda sementara dalam konflik.
Bahkan jika konflik segera berakhir, analis menilai risiko terhadap pasokan minyak global masih tinggi—terutama karena situasi di Selat Hormuz.
Selat sempit yang berada di antara Iran dan Oman ini merupakan salah satu jalur energi paling penting di dunia. Sekitar 20% pasokan minyak global melewati jalur tersebut.
Selama konflik berlangsung, lalu lintas tanker dan aliran minyak melalui selat ini turun drastis. Beberapa laporan menyebut aliran minyak yang biasanya sekitar 20 juta barel per hari menyusut tajam akibat risiko keamanan dan perusahaan pelayaran yang menahan operasi mereka.
Karena porsi pasokan global yang sangat besar melewati rute ini, gangguan kecil saja dapat memperketat pasokan dan mendorong harga tetap tinggi.
Para analis juga mengingatkan bahwa kesepakatan politik tidak otomatis memulihkan rantai pasokan minyak secara fisik. Beberapa faktor dapat mempertahankan harga pada level tinggi bahkan setelah konflik mereda:
• Lalu lintas kapal tanker mungkin pulih secara bertahap karena perusahaan asuransi dan operator masih menilai risiko keamanan.
• Infrastruktur energi yang rusak selama konflik bisa memerlukan waktu berminggu‑minggu atau berbulan‑bulan untuk diperbaiki.
• Operasi pelabuhan, fasilitas pemuatan, dan kapasitas kilang mungkin masih terganggu setelah pertempuran berhenti.
• Penurunan ekspor selama konflik bisa membuat persediaan global lebih ketat.
Dengan kata lain, pasar membutuhkan bukti bahwa minyak dapat kembali mengalir secara normal dari Teluk Persia ke konsumen global—bukan hanya pernyataan diplomatik.
Komentar Trump tentang kemungkinan berakhirnya perang Iran dengan cepat memang membantu menurunkan harga minyak untuk sementara karena memunculkan harapan de‑eskalasi. Namun pasar tetap berhati‑hati.
Selama negosiasi belum menghasilkan kesepakatan yang jelas dan lalu lintas tanker melalui Selat Hormuz belum kembali normal, harga minyak kemungkinan masih akan mengandung premi risiko geopolitik yang signifikan—bahkan jika konflik mulai mereda.
Studio Global AI
Use this topic as a starting point for a fresh source-backed answer, then compare citations before you share it.
Harga minyak turun setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan perang dengan Iran bisa berakhir “sangat cepat,” tetapi pasar tetap berhati‑hati karena gangguan pasokan di Selat Hormuz yang mengalirkan sekitar 20% miny...
Harga minyak turun setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan perang dengan Iran bisa berakhir “sangat cepat,” tetapi pasar tetap berhati‑hati karena gangguan pasokan di Selat Hormuz yang mengalirkan sekitar 20% miny... Pergerakan harga kini sangat dipengaruhi oleh negosiasi AS–Iran; setiap sinyal diplomasi bisa menurunkan harga sementara, tetapi ketidakpastian hasil pembicaraan membuat investor tetap waspada.
Analis memperingatkan bahwa bahkan jika perang berhenti segera, gangguan infrastruktur, lalu lintas tanker yang menurun, dan pemulihan logistik yang lambat bisa membuat harga minyak tetap tinggi selama berbulan‑bulan.