Platform e‑commerce besar di China mulai mengganti pencarian berbasis kata kunci dengan AI shopping agents yang memahami niat pengguna melalui percakapan alami. Alibaba dengan Qwen, Meituan dengan Xiaomei, dan JD.com dengan asisten belanja AI berlomba membangun model baru yang disebut “agentic commerce.” [4][6][11]...

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: How are China’s tech companies such as Alibaba, Meituan, and JD.com using AI agents to transform e-commerce for more than 900 million users,. Article summary: China’s big platforms are turning shopping from “type keywords, scan pages, compare manually” into “tell an AI what you need, let it narrow choices, explain trade-offs, and sometimes complete the order.” The change matte. Topic tags: general, general web, government. Reference image context from search candidates: Reference image 1: visual subject "[SKIP TO CONTENT](https://hbr.org/2026/04/research-what-chinas-ai-agents-reveal-about-the-future-of-commerce#main). [AI and machine learning](https://hbr.org/topic/subject/ai-and-m" source context "Research: What China’s AI Agents Reveal About the Future of Commerce" Reference image 2: visual subject "[SKIP TO
China sedang menguji cara baru berbelanja online: AI agents yang menggantikan fungsi search bar tradisional.
Alih‑alih mengetik kata kunci dan menelusuri ratusan produk, pengguna kini bisa menjelaskan kebutuhan mereka dengan bahasa sehari‑hari. AI kemudian menafsirkan maksud tersebut, memfilter katalog produk, membandingkan pilihan, dan dalam beberapa kasus menyelesaikan pembelian secara otomatis.
Perubahan ini sangat besar skalanya. China memiliki lebih dari 900 juta pengguna e‑commerce, bahkan laporan terbaru memperkirakan sekitar 974 juta orang pernah berbelanja online di negara tersebut.
Selama bertahun‑tahun, pengalaman belanja online hampir selalu sama: mengetik kata kunci, memindai daftar panjang produk, lalu membandingkan satu per satu.
Kini perusahaan teknologi China mencoba menggantinya dengan interaksi percakapan menggunakan AI.
Contohnya, alih‑alih mengetik:
“running shoes men cushioning”
Pengguna bisa mengatakan:
“Saya butuh sepatu lari untuk treadmill yang membantu mengurangi nyeri lutut, budget di bawah 500 yuan.”
AI kemudian menerjemahkan permintaan itu menjadi atribut produk—seperti jenis sepatu, tingkat bantalan, dan kisaran harga—lalu menampilkan pilihan yang paling relevan. Sistem bahkan bisa mengajukan pertanyaan lanjutan, misalnya soal merek favorit, waktu pengiriman, atau batas anggaran.
Tujuannya sederhana: beralih dari pencocokan kata kunci menjadi pemahaman niat pengguna.
Alibaba mulai mengintegrasikan asisten AI Qwen ke dalam ekosistem e‑commerce mereka, termasuk platform besar seperti Taobao dan Tmall.
Qwen dapat mengakses katalog produk yang sangat besar—dilaporkan mencapai miliaran listing produk—untuk mencari, membandingkan, dan merekomendasikan barang langsung lewat percakapan.
Asisten ini juga telah digunakan secara luas di aplikasi konsumen Alibaba dan menjangkau ratusan juta pengguna aktif bulanan. Dalam beberapa kasus, pengguna bisa:
Semua proses tersebut dapat terjadi tanpa keluar dari chat dengan AI.
Meituan—super‑app China untuk layanan sehari‑hari seperti pesan makanan, booking hotel, dan layanan lokal—meluncurkan agen AI bernama Xiaomei.
Perusahaan menggambarkannya bukan sekadar chatbot, melainkan “orchestrator plus execution agent.”
Artinya sistem tidak hanya menjawab pertanyaan, tetapi juga dapat:
Contohnya, pengguna cukup mengatakan:
“Pesankan makan siang seperti biasa, tapi kirim 20 menit lebih lambat hari ini.”
AI akan memproses permintaan tersebut dan menyelesaikan pesanan tanpa banyak interaksi tambahan.
Pendekatan ini mendorong e‑commerce menuju model delegasi, di mana AI benar‑benar menjalankan proses transaksi.
JD.com juga mengembangkan asisten belanja berbasis AI dan panduan produk pintar untuk meningkatkan pengalaman pelanggan.
Di seluruh industri teknologi China, perusahaan kini berlomba menguasai apa yang disebut analis sebagai agentic commerce—model di mana AI menjadi antarmuka utama antara konsumen dan marketplace digital.
Dengan kata lain, kompetisi tidak lagi hanya soal harga, logistik, atau stok produk, tetapi juga siapa yang mengendalikan niat belanja pengguna sebelum berubah menjadi pencarian produk.
Belanja berbasis percakapan mengubah cara orang menemukan produk.
Model e‑commerce tradisional bergantung pada algoritma yang mencocokkan kata kunci. Sebaliknya, AI agents menganalisis niat dan konteks pengguna.
Perbedaannya antara lain:
Hasilnya terasa lebih seperti berbicara dengan staf penjualan yang berpengetahuan dibanding menelusuri halaman hasil pencarian.
AI agents dapat menggabungkan banyak sinyal sekaligus saat memberi rekomendasi, seperti:
Alih‑alih menampilkan ratusan produk, AI bisa merangkum beberapa opsi terbaik sekaligus menjelaskan kelebihan dan kekurangannya.
Platform ritel di China juga sudah menggunakan AI untuk menyesuaikan promosi—misalnya mengirim kupon otomatis berdasarkan perilaku browsing—yang dalam uji coba meningkatkan konversi hingga 15%.
Salah satu dampak terbesar adalah memperpendek perjalanan pembelian.
Dalam alur tradisional, pengguna biasanya harus:
Dengan AI agent, sebagian besar langkah tersebut bisa dilakukan otomatis. Asisten dapat merangkum ulasan, membandingkan spesifikasi, menyoroti perbedaan penting, lalu menyelesaikan pembelian dalam satu percakapan.
Beberapa transaksi bahkan sudah sepenuhnya terjadi di dalam chat AI, termasuk proses pembayaran melalui layanan terintegrasi.
Walau lebih praktis, model ini memunculkan pertanyaan penting: siapa yang mengendalikan rekomendasi AI?
Jika AI menyaring miliaran produk menjadi hanya beberapa saran, keputusan algoritma menjadi sangat berpengaruh.
Potensi masalahnya antara lain:
Dalam skenario ini, AI dapat menjadi penjaga gerbang baru antara konsumen dan marketplace.
Eksperimen China dengan AI shopping agents memberi gambaran bagaimana perdagangan digital bisa berkembang di masa depan.
Antarmuka belanja mungkin tidak lagi berupa search bar dan daftar produk panjang, tetapi percakapan dengan asisten AI yang memahami kebutuhan, menjelajahi katalog besar, dan menyelesaikan transaksi secara otomatis.
Jika tren ini berlanjut, platform yang unggul bukan hanya yang memiliki produk paling banyak atau pengiriman tercepat—melainkan yang memiliki AI agent paling pintar dalam memandu pengalaman belanja.
Studio Global AI
Use this topic as a starting point for a fresh source-backed answer, then compare citations before you share it.
Platform e‑commerce besar di China mulai mengganti pencarian berbasis kata kunci dengan AI shopping agents yang memahami niat pengguna melalui percakapan alami.
Platform e‑commerce besar di China mulai mengganti pencarian berbasis kata kunci dengan AI shopping agents yang memahami niat pengguna melalui percakapan alami. Alibaba dengan Qwen, Meituan dengan Xiaomei, dan JD.com dengan asisten belanja AI berlomba membangun model baru yang disebut “agentic commerce.” [4][6][11]
AI dapat menemukan produk, membandingkan opsi, menerapkan kupon, hingga menyelesaikan pembelian langsung dalam satu percakapan.