Per akhir Mei 2026, AS dan Iran memiliki rancangan kerangka kerja untuk kesepakatan nuklir, tetapi belum ditandatangani. Rancangan kesepakatan mencakup moratorium pengayaan, keringanan sanksi, dan penghapusan label teroris, tetapi semuanya bisa runtuh jika Trump atau Khamenei menolak.

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: Given President Trump's demand that Iran's enriched uranium stockpile be either turned over to the U.S. for destruction or eliminated on-sit. Article summary: The negotiations are in a late but fragile stage. A draft framework exists, but the deal could collapse over Iran's insistence on the immediate release of $12 billion in frozen assets and its refusal to publicly commit t. Topic tags: general, general web, user generated. Reference image context from search candidates: Reference image 1: visual subject "US President Donald Trump declared that America will retrieve Iran’s stockpile of highly enriched uranium, stating the US does not need or want it and will probably destroy it af" Reference image 2: visual subject "U.S. President Donald Trump said Iran's enriched uranium stockpile must either be handed over to th
Amerika Serikat dan Iran lebih dekat ke kesepakatan nuklir permanen daripada beberapa tahun terakhir—namun seluruh bangunan diplomasi ini bisa runtuh hanya karena satu tuntutan yang belum terselesaikan: uang senilai $12 miliar dolar AS (sekitar Rp 192 triliun).
Dimediasi oleh Oman, Qatar, dan Pakistan, para negosiator dilaporkan telah mengembangkan sebuah nota kesepahaman bersama (MoU). Kerangka ini menguraikan moratorium pengayaan nuklir Iran, pengiriman uranium yang diperkaya tinggi ke luar negeri, keringanan sanksi AS, pelepasan dana Iran yang dibekukan, dan pencabutan bersama label militer dan politik . Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyebut kesepakatan ini "sedang dalam proses"
. Frasa itu menyimpan beban yang sangat berat.
Inti ketegangannya sederhana: Presiden Trump secara terbuka menuntut agar stok uranium yang diperkaya Iran diserahkan atau dimusnahkan. Iran secara terbuka menolak, sementara secara diam-diam menetapkan akses segera ke uang tunai yang dibekukan sebagai syarat kesepakatan. Berikut adalah detail di balik kebuntuan ini per akhir Mei 2026.
Pada 25 Mei 2026, Trump mengunggah arahan blak-blakan di Truth Social. Uranium yang diperkaya Iran—yang ia sebut "Debu Nuklir"—harus dimusnahkan. Dia menguraikan tiga jalur pembuangan yang dapat diterima :
Tuntutan ini bukan catatan kaki negosiasi. AS bersikeras agar Iran secara permanen meninggalkan semua pengayaan nuklir dan mentransfer seluruh 440 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60% (HEU)—bahan yang cukup untuk memproduksi sekitar 11 senjata nuklir jika diperkaya lebih lanjut . Stok ini diyakini dibagi antara terowongan bawah tanah di kompleks nuklir Isfahan dan fasilitas pengayaan Natanz
.
Ada kesenjangan kredibilitas mendasar yang memisahkan kedua belah pihak tentang apakah Iran pada prinsipnya telah setuju untuk menyerahkan stoknya.
Pada 16 April 2026, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa Iran telah setuju untuk menyerahkan uraniumnya dan kedua negara hampir mencapai kesepakatan . Dua hari kemudian, Kementerian Luar Negeri Iran mengeluarkan bantahan tegas. Juru bicara Esmaeil Baqaei mengatakan kepada TV pemerintah: "Uranium yang diperkaya Iran tidak akan dipindahkan ke mana pun"
. Dia bersikeras bahwa transfer uranium ke AS "tidak pernah diangkat dalam negosiasi"
.
Trump meningkatkan kontradiksi ini pada 11 Mei. Berbicara dari Gedung Putih, dia mengklaim pejabat Iran secara pribadi telah memberi tahu AS bahwa mereka akan mengizinkan ekstraksi stok yang terkubur—namun kemudian "menghapus komitmen itu dari proposal tertulis resmi mereka" . Posisi pemerintah AS adalah bahwa ada kesepakatan lisan; posisi publik Iran adalah bahwa tidak ada kesepakatan. Dinamika saling klaim ini tetap menjadi salah satu rintangan psikologis utama menuju kesepakatan yang tertandatangani.
Jika sengketa uranium adalah kebuntuan publik, pemecah kesepakatan yang lebih mendesak bersifat finansial. Pada akhir Mei 2026, Iran mengajukan prasyarat yang belum diterima oleh negosiator AS.
Berbagai sumber mengonfirmasi bahwa Iran menuntut pencairan segera $12 miliar aset yang dibekukan di Qatar sebelum nota kesepahaman dapat berlanjut . Ini bukan jumlah penuh yang diinginkan Iran—posisi Teheran yang lebih luas adalah bahwa semua aset yang dibekukan di luar negeri pada akhirnya harus dicairkan sebagai bagian dari perjanjian komprehensif
. $12 miliar ini hanya mewakili tahap awal yang diperlukan untuk memulai peta jalan diplomatik
.
Kantor berita Tasnim News yang terkait dengan Garda Revolusi Iran (IRGC) menegaskan bahwa MoU awal mana pun harus mencakup pencairan ini . Seorang sumber yang mengetahui negosiasi ini menggambarkannya sebagai "satu-satunya rintangan yang tersisa" untuk memajukan rancangan perjanjian
. Iran telah menyatakan tidak akan melanjutkan perjanjian pendahuluan kecuali persyaratan ini terpenuhi
.
Tuntutan ini tampaknya telah dipersempit dari proposal sebelumnya. Pada April 2026, Axios melaporkan bahwa AS sedang mempertimbangkan kesepakatan uang tunai untuk uranium yang lebih luas senilai $20 miliar . Angka $12 miliar saat ini menunjukkan adanya penyempitan ruang lingkup—tetapi belum ada resolusi.
Bahkan jika uang dan uranium terselesaikan, kesepakatan akan tetap rentan. Pada Februari 2026, IAEA melaporkan bahwa mereka tidak dapat memverifikasi apakah Iran telah menangguhkan semua pengayaan uranium . AS menuntut "perlucutan senjata nuklir yang lengkap dan dapat diverifikasi," termasuk netralisasi permanen semua infrastruktur pengayaan dan persenjataan, serta inspeksi internasional intrusif tanpa klausul kedaluwarsa
. Iran telah menolak akses penuh IAEA, dan kesenjangan verifikasi ini tidak mungkin ditutup dengan cepat.
Di luar uranium dan aset yang dibekukan, rancangan MoU membahas beberapa isu strategis lainnya :
Setiap klausul dalam rancangan memerlukan persetujuan akhir dari dua orang: Presiden Trump dan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei. Trump sebelumnya telah menetapkan tenggat waktu yang ketat—termasuk ultimatum 60 hari pada April 2025—dan telah mengancam aksi militer jika negosiasi gagal . Khamenei harus menyetujui kesepakatan di pihak Iran, dan oposisi dari kelompok garis keras internal membuat persetujuannya jauh dari pasti.
Garis waktunya sangat tidak kenal ampun. Iran mengondisikan kemajuan pada uang tunai yang belum dimilikinya. AS mengondisikan keringanan sanksi pada langkah-langkah Iran yang belum diverifikasi. Dan seluruh kerangka kerja—pemindahan uranium, aset yang dibekukan, akses Selat Hormuz—disatukan oleh pembicaraan tidak langsung dan pernyataan publik yang saling bertentangan. MoU itu nyata, tetapi belum merupakan kesepakatan. Dalam negosiasi ini, "hampir" masih menyisakan ruang untuk keruntuhan.
Studio Global AI
Use this topic as a starting point for a fresh source-backed answer, then compare citations before you share it.
Per akhir Mei 2026, AS dan Iran memiliki rancangan kerangka kerja untuk kesepakatan nuklir, tetapi belum ditandatangani.
Per akhir Mei 2026, AS dan Iran memiliki rancangan kerangka kerja untuk kesepakatan nuklir, tetapi belum ditandatangani. Rancangan kesepakatan mencakup moratorium pengayaan, keringanan sanksi, dan penghapusan label teroris, tetapi semuanya bisa runtuh jika Trump atau Khamenei menolak.
Badan Energi Atom Internasional (IAEA) saat ini tidak dapat memverifikasi apakah Iran telah menangguhkan pengayaan, menambah lapisan ketidakpercayaan dalam perundingan yang sudah rapuh.