Serangan terhadap kapal niaga di sekitar Selat Hormuz menunjukkan bagaimana konflik militer di satu kawasan dapat dengan cepat menjadi risiko perdagangan global. Pada April 2026, laporan yang mengutip Associated Press menyebut Iran menembaki tiga kapal di dekat selat itu dan menyita dua di antaranya [4]. Laporan lain, termasuk yang berjejaring AFP, menyebut kapal komersial mendapat tembakan dan ancaman dari militer Iran saat mencoba melintasi Selat Hormuz [
5][
7].
Jumlah kapal dan cakupan kerusakan tidak selalu sama di setiap laporan. Namun benang merahnya jelas: keselamatan kapal niaga di jalur sempit ini telah berubah menjadi titik tekan geopolitik. Dari sana, risikonya merambat ke premi asuransi, ongkos angkut, volume pelayaran, hingga perhitungan pasokan energi [3][
10][
11].
Apa yang dilaporkan terjadi
Pada 18 April 2026, sejumlah laporan menyebut kapal komersial mendapat tembakan dan ancaman dari militer Iran ketika hendak menyeberangi Selat Hormuz. Iran juga disebut menutup kembali rute penting itu setelah sempat membukanya [5][
7]. Beberapa hari kemudian, pada 23 April, laporan yang mengutip AP menyebut Iran menembaki tiga kapal di dekat Selat Hormuz dan menyita dua di antaranya [
4].
Advisori risiko maritim untuk kawasan Timur Tengah menggambarkan situasi keamanan di Selat Hormuz pada periode itu terus memburuk. Dokumen tersebut menyebut laporan tembakan terhadap kapal niaga, penyitaan dua kapal kontainer oleh Iran, serta dugaan penyebaran ranjau laut [2]. Dengan kata lain, gangguan yang dihadapi pelayaran komersial bukan hanya soal penundaan, melainkan juga potensi ancaman fisik terhadap kapal dan awaknya.
Karena rincian tiap laporan berbeda, sulit menetapkan satu angka final tentang total kapal yang terdampak. Tetapi beberapa sumber mengarah pada kesimpulan yang sama: pelayaran niaga di Selat Hormuz tidak lagi bisa dipandang sebagai urusan logistik biasa, melainkan berada di tengah tekanan militer dan diplomatik [3][
4][
5].
Mengapa Selat Hormuz begitu menentukan
Selat Hormuz adalah jalur laut sempit antara Iran dan Oman. Dalam rantai pasok global, jalur seperti ini sering disebut chokepoint: titik sempit yang bila terganggu dapat menahan arus barang jauh melampaui lokasi kejadian. Sejumlah laporan menyebut selat ini terkait dengan sekitar 20% konsumsi global petroleum liquids atau sekitar seperlima arus minyak dunia [11][
13].
Karena itu, tembakan atau penyitaan kapal di Hormuz tidak berhenti sebagai persoalan satu kapal. Perusahaan pelayaran harus menghitung ulang keamanan lintasan. Perusahaan asuransi menilai ulang pertanggungan. Pedagang minyak dan pemilik kargo memperkirakan ulang jadwal, biaya, dan risiko keterlambatan. The National melaporkan pengangkutan kargo melalui Selat Hormuz diperkirakan menjadi lebih mahal dan berisiko, ketika perusahaan asuransi membatalkan pertanggungan dan operator pelayaran menerapkan biaya tambahan [10].
Dampak langsung: awak kapal menjadi pihak paling rentan
Risiko paling nyata ada pada manusia di atas kapal. Berita PBB mengutip Organisasi Maritim Internasional atau IMO yang menyebut pemblokiran dan gangguan pelayaran di Selat Hormuz menunjukkan bagaimana kapal dan pelaut dapat menjadi alat tawar dalam sengketa geopolitik [3]. Menurut laporan yang sama, akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran, hingga 20.000 pelaut terjebak di sekitar 2.000 kapal di Teluk Persia karena tidak dapat melintas dengan aman [
3].
Ancaman di kawasan itu juga tidak tunggal. Advisori risiko maritim menyebut tembakan terhadap kapal niaga, penyitaan kapal, dan dugaan ranjau laut muncul dalam periode yang sama [2]. Dugaan ranjau penting karena dapat membuat pembukaan kembali jalur pelayaran menjadi jauh lebih rumit. Dokumen itu juga menyebut peringatan bahwa operasi pembersihan ranjau dapat memakan waktu berbulan-bulan [
2].
Keputusan operasional perusahaan pelayaran pun sudah ikut berubah. Lloyd’s List melaporkan tanker-tanker menghindari Selat Hormuz di tengah memburuknya keamanan kawasan, sementara total lalu lintas kapal pada satu titik turun 38% [6]. Bahkan sebelum kerusakan fisik bertambah, persepsi risiko saja dapat mendorong operator menunda keberangkatan, menunggu di luar jalur, mengubah rute, atau menambah prosedur pengamanan [
6][
10].
Biaya perdagangan: asuransi, ongkos angkut, dan keterlambatan
Dampak yang paling cepat terasa biasanya muncul di asuransi dan ongkos angkut. The National melaporkan bahwa pengiriman kargo melalui Selat Hormuz diperkirakan menjadi lebih mahal dan berisiko karena perusahaan asuransi membatalkan perlindungan dan perusahaan pelayaran mengenakan biaya tambahan [10]. Dalam laporan yang sama, Hapag-Lloyd disebut akan menerapkan War Risk Surcharge atau biaya tambahan risiko perang untuk kargo ke dan dari kawasan Teluk [
10].
Dampak berikutnya adalah keterlambatan. Jika kapal memilih menunggu atau menghindari selat, jadwal pengiriman ikut mundur. Penurunan lalu lintas 38% yang dilaporkan Lloyd’s List memperlihatkan bahwa risiko keamanan sudah masuk ke keputusan pelayaran harian, bukan sekadar kekhawatiran di atas kertas [6].
Dampak ketiga adalah kewaspadaan di pasar energi. Selat Hormuz disebut terkait dengan sekitar seperlima arus minyak dunia, sehingga serangan terhadap kapal komersial di sana dapat memperbesar kecemasan pasar energi global [11][
13]. Bila gangguan berlarut-larut, biaya angkut, premi asuransi risiko perang, dan premi risiko dalam transaksi energi berpotensi meningkat [
10][
11].
Bagian yang masih belum pasti
Skala kerusakan belum bisa diringkas dalam satu angka yang benar-benar final. Laporan yang mengutip AP menyebut tiga kapal ditembaki dan dua disita [4]. Laporan lain menggambarkan kapal komersial mendapat tembakan dan ancaman saat melintasi selat [
5][
7]. Ada pula laporan yang menyebut jumlah kapal yang diserang di kawasan Teluk dan sekitar Selat Hormuz lebih besar [
13].
Karena itu, pertanyaan terpenting saat ini bukan hanya berapa jumlah kapal dalam hitungan akhir. Yang lebih penting adalah pola risikonya: kapal komersial terpapar ancaman militer saat melintasi salah satu jalur energi utama dunia, lalu risiko itu cepat diterjemahkan menjadi biaya asuransi, biaya angkut, dan kecemasan pasokan [3][
10][
11].
Empat sinyal yang perlu dipantau
- Volume kapal yang benar-benar melintas. Jika penurunan lalu lintas hanya sesaat, dampaknya mungkin lebih terbatas. Tetapi bila berlanjut, gangguan logistik akan makin besar. Lloyd’s List melaporkan total lalu lintas kapal di Selat Hormuz sempat turun 38% [
6].
- Asuransi risiko perang dan biaya tambahan pelayaran. Pembatalan pertanggungan, kenaikan premi, dan biaya tambahan dari operator kapal akan menentukan seberapa besar kenaikan biaya pengiriman [
10].
- Laporan penyitaan dan dugaan ranjau. Penyitaan kapal atau dugaan ranjau laut membuat jaminan lintasan aman jauh lebih sulit, terutama jika operasi pembersihan memerlukan waktu panjang [
2][
4].
- Perlindungan awak kapal dan respons internasional. Jika ribuan kapal dan puluhan ribu pelaut terus terdampak, isu keamanan maritim dapat berkembang menjadi persoalan kemanusiaan sekaligus diplomatik [
3].
Pada akhirnya, serangan kapal di Selat Hormuz bukan sekadar insiden terhadap satu atau dua kapal. Ia memperlihatkan betapa cepatnya keamanan maritim di satu titik sempit dapat tersambung dengan biaya perdagangan, keselamatan pelaut, dan risiko energi dunia [3][
10][
11].




