Saat diminta menjawab pertanyaan seperti “bagaimana jika kita berbicara dari posisi lawan bicara?”, istilah yang paling tepat adalah komunikasi empatik. Dalam diskusi kelas, wawancara, atau tugas presentasi, jawaban yang kuat bukan hanya mengatakan “saya berusaha baik kepada orang lain”, tetapi juga menjelaskan manfaat, batasan, dan cara menyeimbangkannya.
Apa itu komunikasi empatik?
Komunikasi empatik adalah cara berkomunikasi dengan mencoba memahami keadaan, perasaan, dan cara pandang orang lain sebelum menanggapi. Namun, empati tidak sama dengan selalu setuju atau selalu mengalah.
Dalam kajian yang digunakan sebagai rujukan, empati dijelaskan memiliki dua sisi utama: sisi emosional, yaitu ikut memahami perasaan orang lain, dan sisi kognitif, yaitu kemampuan mengambil sudut pandang orang lain atau membayangkan posisi mereka[2]. Jadi, komunikasi empatik berarti tidak langsung menilai dari ukuran diri sendiri, melainkan bertanya: “Orang ini sedang berada dalam situasi seperti apa? Mengapa ia bisa berpikir atau merasa begitu?”
Intinya, komunikasi empatik bukan kalimat “kamu pasti benar”, melainkan “saya mencoba memahami maksud dan perasaanmu, lalu saya juga menyampaikan pikiran saya dengan hormat.”
Kelebihan: membantu meredakan konflik dan membangun kepercayaan
Kelebihan terbesar komunikasi empatik adalah membantu mencegah percakapan berubah menjadi adu emosi. Ketika seseorang merasa didengarkan lebih dulu, ia biasanya tidak perlu langsung bersikap defensif. Suasana bicara juga bisa menjadi lebih tenang karena respons tidak dimulai dari serangan atau bantahan.
Sumber penelitian menyebut empati dapat membantu membangun hubungan emosional yang dekat, dan empati juga dibahas sebagai salah satu unsur komunikasi suportif, yaitu komunikasi yang berlawanan dengan komunikasi defensif[2]. Dengan kata lain, empati bukan hanya soal sopan santun, tetapi juga berhubungan dengan cara membuat orang lain merasa dihargai dalam percakapan.
Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa empati dan kemampuan komunikasi sering dibahas sebagai faktor penting dalam hubungan antarmanusia. Dalam penelitian pada mahasiswa keperawatan, hubungan interpersonal memiliki korelasi positif yang signifikan dengan kemampuan komunikasi (r = 0,645; p < 0,001) dan juga dengan kemampuan empati (r = 0,524; p < 0,001)[5]. Penelitian lain terhadap 286 mahasiswa juga meneliti hubungan antara kemampuan komunikasi, kemampuan empati, dan kompetensi interpersonal mahasiswa[
3].
Meski begitu, hasil penelitian seperti ini tetap perlu dibaca dengan hati-hati. Karena dilakukan pada kelompok tertentu, hasilnya tidak berarti semua percakapan pasti akan berjalan baik hanya karena seseorang bersikap empatik. Yang lebih tepat: empati dan kemampuan komunikasi telah banyak diteliti sebagai unsur penting dalam hubungan interpersonal.
Kekurangan: bisa membuat kita terlalu menahan pendapat sendiri
Komunikasi empatik juga punya sisi yang perlu diwaspadai. Jika terlalu fokus memahami orang lain, seseorang bisa lupa menyampaikan perasaan atau pendapatnya sendiri. Misalnya, ketika teman berkata kasar, kita mungkin berpikir, “Mungkin dia sedang punya masalah,” lalu memilih diam. Sekilas konflik terlihat selesai, tetapi rasa tidak nyaman kita sebenarnya belum tersampaikan.
Karena itu, empati perlu berjalan bersama ekspresi diri. Ringkasan penelitian tentang guru sekolah dasar menunjukkan bahwa semakin tinggi kemampuan empati dan ekspresi emosi, semakin lancar komunikasi antara guru dan orang tua[6]. Ini menunjukkan bahwa memahami orang lain saja belum cukup; kemampuan menyampaikan emosi dan pikiran secara tepat juga penting dalam komunikasi.
Jadi, komunikasi empatik yang sehat bukan berarti satu pihak terus menahan diri. Yang ideal adalah mengakui perasaan orang lain sambil tetap jujur terhadap perasaan sendiri.
Cara menyusun jawaban diskusi
Kalau harus menjawab dalam diskusi atau tugas lisan, gunakan alur sederhana berikut:
- Sebutkan gaya komunikasi: “Saya berusaha memahami posisi dan perasaan lawan bicara terlebih dahulu.”
- Jelaskan kelebihan: “Cara ini membantu mengurangi konflik dan membangun kepercayaan.”
- Akui kekurangan: “Namun, jika berlebihan, saya bisa menahan pendapat sendiri.”
- Berikan solusi: “Saya perlu tetap menyampaikan pendapat dengan sopan dan jelas.”
- Tutup dengan simpulan: “Komunikasi yang baik adalah keseimbangan antara empati dan keberanian mengekspresikan diri.”
Dengan struktur ini, jawaban terdengar lebih matang karena tidak hanya memuji empati, tetapi juga menunjukkan batasannya.
Contoh jawaban lengkap
Gaya komunikasi saya adalah berusaha melihat situasi dari sudut pandang lawan bicara terlebih dahulu. Menurut saya, setiap orang memiliki latar belakang, pengalaman, dan perasaan yang berbeda, sehingga satu kalimat bisa diterima dengan cara yang berbeda pula. Karena itu, sebelum menanggapi, saya berusaha memahami mengapa seseorang mengatakan sesuatu dan perasaan apa yang mungkin sedang ia alami.
Kelebihan dari cara komunikasi ini adalah dapat mengurangi konflik dan membangun kepercayaan. Jika saya tidak langsung membantah, suasana percakapan menjadi lebih tenang. Lawan bicara juga bisa merasa lebih dihargai dan lebih terbuka dalam menyampaikan pendapatnya.
Namun, cara ini juga memiliki kekurangan. Jika terlalu memikirkan perasaan orang lain, saya bisa menahan pendapat atau perasaan saya sendiri. Akibatnya, masalah tidak benar-benar selesai dari pihak saya. Karena itu, saya ingin tetap mempertahankan sikap empatik, tetapi juga belajar menyampaikan pendapat dengan jujur dan sopan. Misalnya, saya bisa mengatakan, “Saya mengerti alasan kamu berpikir begitu, tetapi dari sisi saya, saya merasa seperti ini.” Menurut saya, komunikasi yang baik terjadi ketika kita bisa memahami orang lain tanpa mengabaikan diri sendiri.
Contoh jawaban singkat
Jika waktu menjawab terbatas, gunakan versi ringkas seperti ini:
Gaya komunikasi saya adalah komunikasi empatik, yaitu berusaha memahami situasi dan perasaan lawan bicara sebelum merespons. Kelebihannya, cara ini dapat mengurangi konflik dan membangun rasa saling percaya. Namun, kekurangannya, saya bisa terlalu menjaga perasaan orang lain sampai kurang menyampaikan pendapat sendiri. Karena itu, saya ingin menyeimbangkan empati dengan keberanian menyampaikan pikiran secara jujur dan sopan.
Kalimat yang bisa langsung dipakai
Untuk mempraktikkan komunikasi empatik, gabungkan kalimat yang menunjukkan pemahaman dengan kalimat yang menyampaikan posisi diri.
- “Saya mengerti mengapa kamu berpikir begitu, tetapi saya melihatnya sedikit berbeda.”
- “Mungkin ada bagian yang belum saya pahami, jadi saya ingin mendengar penjelasanmu dulu.”
- “Saya bisa memahami perasaanmu, tetapi saya juga perlu menyampaikan apa yang saya rasakan.”
- “Saya menghargai pendapatmu, dan dari sudut pandang saya, situasinya terasa seperti ini.”
- “Saya ingin memahami posisimu tanpa harus mengabaikan pendapat saya sendiri.”
Hal utama yang perlu diingat: komunikasi empatik bukan berarti selalu mengalah. Komunikasi empatik yang baik adalah kemampuan memahami orang lain sambil tetap menghormati pikiran dan perasaan diri sendiri.




