Prinsip utamanya sederhana: percaya pada sumber yang bisa dicek, bukan pada nada percaya diri AI.
AI berguna untuk merapikan pertanyaan, membuat daftar hal yang perlu ditelusuri, atau memberi gambaran awal. Namun, untuk fakta, angka, kebijakan, kesehatan, hukum, investasi, atau peristiwa berita, yang harus diperiksa bukan seberapa rapi kalimatnya, melainkan:
Jika sebuah klaim hanya bisa ditelusuri kembali ke jawaban AI itu sendiri, anggap klaim itu belum terverifikasi.
Jangan mengecek satu paragraf panjang sekaligus. Pisahkan dulu isinya menjadi klaim yang bisa diuji: angka sendiri, tanggal sendiri, kesimpulan sendiri, dan rekomendasi sendiri.
Prompt yang bisa dipakai:
Ubah jawaban di atas menjadi daftar klaim yang bisa diverifikasi. Untuk setiap klaim, tulis sumber asli, lembaga atau penulis, tanggal, URL, dan kutipan teks asli. Jika tidak ada sumber, beri label: belum terverifikasi.
Setelah dipecah, biasanya langsung terlihat mana yang punya jejak sumber dan mana yang hanya hasil isian AI.
Nama lembaga atau judul artikel tidak otomatis berarti klaimnya benar. Buka URL atau cari dokumen aslinya, lalu periksa:
Jika sumber tidak ditemukan, tanggalnya tidak sesuai, atau isi aslinya berbeda dari ringkasan AI, turunkan status klaim itu menjadi belum terverifikasi atau bermasalah.
Untuk klaim penting, cari dokumen yang paling dekat dengan peristiwa atau data aslinya. Contohnya:
Berita, blog, dan unggahan media sosial bisa membantu memahami konteks. Namun, bila Anda akan mengutip, membagikan, membuat laporan, atau mengambil keputusan, usahakan tetap kembali ke dokumen asli. Jika semua artikel hanya saling mengutip tanpa satu pun menautkan sumber primer, anggap risikonya tinggi.
Satu sumber yang benar-benar ada belum cukup untuk mengamankan seluruh kesimpulan. Gunakan dua lapis pengecekan:
Jika dua sumber tidak sejalan, jangan buru-buru memilih yang paling cocok dengan dugaan Anda. Tandai dulu sebagai diperdebatkan atau belum dapat dikonfirmasi. Setelah itu, cek apakah perbedaannya berasal dari tanggal yang berbeda, definisi yang berbeda, wilayah yang berbeda, atau kesalahan kutip.
Cek fakta tidak selalu berakhir dengan vonis hitam-putih. Lebih aman jika setiap klaim diberi status:
| Status | Cara menilai | Tindak lanjut |
|---|---|---|
| Terverifikasi | Bisa ditelusuri ke sumber primer dan teks asli mendukung klaim | Boleh digunakan, tetapi simpan tautan sumber |
| Belum terverifikasi | Ada klaim, tetapi sumbernya belum cukup atau belum ditemukan | Jangan disajikan sebagai fakta |
| Dugaan | AI atau penulis menarik kesimpulan dari data yang ada | Tandai jelas sebagai interpretasi atau kemungkinan |
| Diperdebatkan | Sumber-sumber kredibel memberi keterangan berbeda | Jelaskan perbedaannya dan hindari kesimpulan final |
Cara ini mencegah AI mengemas kata seperti mungkin, diperkirakan, atau menurut sebagian pihak menjadi seolah-olah sudah pasti.
Angka: Persentase, nominal, peringkat, pertumbuhan, dan jumlah sampel harus dicek. Perhatikan tahun, wilayah, pembagi, dan sumber datanya.
Waktu: Kebijakan, harga, aturan, fitur produk, dan kondisi perusahaan bisa cepat berubah. Cek tanggal terbit dan apakah ada pembaruan.
Wilayah atau yurisdiksi: Istilah yang sama bisa punya konsekuensi berbeda di Indonesia, Amerika Serikat, Uni Eropa, atau negara lain. Topik hukum, pajak, kesehatan, imigrasi, privasi, dan investasi perlu kehati-hatian ekstra.
Definisi: Kata seperti AI, pengguna, pendapatan, risiko, kepatuhan, atau efektif sering punya definisi khusus di bidang tertentu. Baca bagaimana sumber asli mendefinisikannya.
Kutipan: Tanda kutip tidak menjamin kalimat itu benar-benar ada. Cari teks aslinya, cek apakah kalimatnya lengkap, dan lihat apakah konteksnya mendukung tafsir AI.
Kualitas sumber: Sumber yang ada belum tentu dapat diandalkan. Bedakan dokumen resmi, riset akademik, berita, materi pemasaran perusahaan, blog pribadi, dan konten yang hanya menyalin dari tempat lain.
Untuk beberapa topik, biaya kesalahan terlalu besar. Gunakan standar pemeriksaan yang lebih ketat pada:
Risiko di bidang hukum sudah terlihat dalam catatan insiden OECD.AI: ada kasus halusinasi generatif AI yang memengaruhi proses hukum, dan kerugiannya digambarkan sebagai misinformasi yang memengaruhi proses legal . Untuk topik semacam ini, AI boleh membantu menyusun pertanyaan, tetapi jangan menggantikan dokumen resmi, prosedur formal, atau nasihat profesional.
Waspadai jawaban AI jika Anda melihat pola seperti ini:
NIST memasukkan aspek meyakinkannya narasi buatan dan narasi yang tampak kredibel tetapi menyesatkan ke dalam konteks evaluasi teks generatif . Dengan kata lain: semakin terasa rapi dan masuk akal, semakin perlu dicek sumbernya.
Tolong hanya cantumkan sumber asli yang bisa diperiksa publik. Jangan menebak.
Untuk setiap klaim penting, sertakan tautan sumber, lembaga atau penulis, tanggal, dan kutipan teks asli.
Jika tidak yakin, tulis belum diketahui atau belum dapat dikonfirmasi. Jangan mengisi kekosongan dengan dugaan.
Bagi isi jawaban menjadi tiga kolom: terverifikasi, belum terverifikasi, dan dugaan.
Tunjukkan bagian jawaban yang paling rawan salah, termasuk angka, tanggal, wilayah, definisi, dan kutipan.
Ingat satu kalimat ini:
Bisa dilacak ke sumber asli, lanjutkan pemeriksaan. Hanya bisa dilacak ke AI, jangan jadikan fakta.
AI paling berguna sebagai titik awal pencarian, alat penyusun pertanyaan, dan pembuat daftar hal yang perlu dicek. Yang menentukan apakah suatu informasi layak dipercaya tetaplah sumber yang terbuka, bisa diverifikasi, dan dibaca dalam konteks yang lengkap.