Enam perusahaan China dalam daftar tersebut adalah:
Empat posisi lainnya ditempati oleh startup Amerika Serikat, termasuk Figure AI dan Apptronik, serta Agile Robots dari Jerman. Satu entitas AS lainnya juga berada di posisi ke-10 .
| Peringkat | Perusahaan | Basis operasi |
|---|---|---|
| 1 | Fourier | Shanghai, China |
| 2 | AgiBot | Shanghai, China |
| 3 | LimX Dynamics | Shenzhen, China |
| 4 | Pudu Robotics | Shenzhen, China |
| 5 | Unitree Robotics | Hangzhou, China |
| 6 | Figure AI | San Jose, California, AS |
| 7 | Agile Robots | Munich, Jerman |
| 8 | Apptronik | Austin, Texas, AS |
| 9 | Leju Robot | Shenzhen, China |
| 10 | Startup AS lainnya | AS |
Analisis LexisNexis meninjau lebih dari 26.000 keluarga paten. Penilaian mencakup tiga bidang utama dalam pengembangan robot humanoid: sistem interaksi, morfologi atau rancangan fisik robot, serta sistem kendali dan perencanaan .
Pemeringkatan ini hanya mencakup perusahaan rintisan swasta yang telah memperkenalkan setidaknya satu robot humanoid bipedal—robot dengan dua kaki yang mampu berjalan. Karena itu, perusahaan publik besar seperti Tesla dan program robot Optimus tidak termasuk dalam daftar startup tersebut .
LexisNexis melihat adanya “pergeseran yang jelas menuju China” dalam perlombaan robot humanoid . Selama satu dekade terakhir, pengajuan paten China meningkat di bidang interaksi, morfologi, serta kendali dan perencanaan robot .
Keunggulan paling mencolok terlihat pada paten terkait morfologi. China kini menyumbang 73% dari total paten morfologi robot humanoid di dunia . Pertumbuhan paling tajam juga terlihat pada sistem pengambilan keputusan otonom—teknologi yang menentukan apakah robot dapat bekerja secara efektif di lingkungan komersial yang tidak terstruktur, bukan sekadar berjalan di atas panggung pameran .
Dominasi China dalam jumlah paten tidak otomatis berarti seluruh temuannya lebih unggul. Sejumlah analis menilai penemuan dari Amerika Serikat masih memiliki performa lebih baik dalam metrik kualitas paten .
Namun, pemeringkatan LexisNexis sendiri sudah menggunakan indeks berbobot kualitas, bukan sekadar menghitung jumlah paten. Bahkan dengan pendekatan tersebut, startup China tetap mendominasi lima posisi teratas dan mengisi enam dari 10 posisi terbaik . Gambaran besarnya menunjukkan persaingan yang semakin ketat: China unggul dalam volume, sementara AS masih memiliki kantong-kantong inovasi berkualitas tinggi, terutama pada sistem kendali fundamental dan kecerdasan buatan .
Laporan tersebut muncul ketika Federal Communications Commission (FCC)—badan regulator komunikasi Amerika Serikat—bergerak untuk melarang impor baru robot buatan China dengan alasan keamanan nasional . Washington juga mempertimbangkan pembatasan yang lebih luas terhadap impor robot dari China .
Kebijakan ini menjadi latar penting bagi data paten tersebut. Di satu sisi, AS berupaya mengurangi ketergantungan pada perangkat keras buatan China. Di sisi lain, startup China justru memperluas keunggulan dalam kekayaan intelektual yang menjadi fondasi inovasi robot humanoid .
Dampaknya tidak hanya terlihat di dokumen paten. Menurut data industri yang dikutip salah satu sumber, perusahaan China menyumbang 90% pengiriman robot humanoid global pada tahun sebelumnya. Sementara itu, pesaing AS seperti Tesla dan Figure AI masih menghadapi tantangan untuk meningkatkan produksi massal .